KEBUMEN – 7 Februari 2026– Publik di Kabupaten Kebumen kembali disuguhi tontonan memuakkan yang mencoreng citra pelayanan publik. Sebuah mobil operasional Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan nomor polisi F 8*** MA menjadi aktor utama dalam aksi “teror jalanan” yang menghancurkan fasilitas pendidikan di Desa Clapar, Kecamatan Karanggayam, pada Jumat sore.
Kejadian yang viral di berbagai platform media sosial ini bermula saat kendaraan operasional milik Badan Gizi Nasional tersebut melaju secara brutal dari arah Wonotirto. Diduga kuat mengemudi di bawah pengaruh alkohol (mabuk), sang pengemudi kehilangan kendali hingga menghantam pagar SD Clapar sampai roboh total. Ironisnya, meski ban pecah dan besi pagar tersangkut di kolong mobil, sopir tetap memaksakan kendaraan melaju hingga akhirnya terperosok ke parit.
Arogansi tidak berhenti di situ. Saat warga berusaha mendekat untuk memberikan pertolongan, pengemudi justru mengamuk secara membabi buta. Aksi premanisme berupa pemukulan dengan balok kayu hingga tindakan anarkis menggigit jari warga menunjukkan bahwa individu ini sama sekali tidak memiliki integritas sebagai pelayan publik.
Insiden berdarah di Karanggayam ini bukan sekadar kecelakaan tunggal, melainkan puncak gunung es dari kebobrokan manajemen pengawasan di Kebumen. Peristiwa ini menambah daftar panjang rapor merah pelayanan gizi di wilayah ini mulai dari skandal makanan basi, temuan ulat dan cacing pada menu makanan, hingga kasus keracunan massal yang sempat terjadi sebelumnya.
Menyoroti beberapa poin kegagalan fatal:
1. Pembiaran Kriminal: Bagaimana mungkin pengelola Dapur Satuan Pelayanan (MBG) membiarkan personel yang tidak stabil atau mabuk mengoperasikan aset negara? Membiarkan “bom waktu” di jalanan adalah bentuk kelalaian manajerial yang tidak bisa ditoleransi.
2. Arogansi Instansi: Jika pemerintah dan Badan Gizi Nasional Kebumen hanya diam menonton tanpa tindakan radikal, mereka secara tidak langsung melegalkan perilaku premanisme ini.
3. Keselamatan Anak Sekolah: Beruntung, saat kejadian aktivitas sekolah sudah usai. Jika maut menjemput siswa di Karanggayam akibat arogansi sopir yang dibiarkan mabuk oleh manajemennya, permohonan maaf tentu tidak akan pernah cukup.
Masyarakat Kebumen membayar pajak bukan untuk membiayai program yang dikelola secara amatiran dan membahayakan nyawa. Kami menuntut:
– Audit Total Manajemen Dapur: Jangan hanya memecat sopir, tapi evaluasi total manajemen dapur yang bertanggung jawab atas rekrutmen dan pengawasan personel.
– Proses Hukum Tanpa Kompromi: Tidak boleh ada ruang bagi aksi penganiayaan dalam institusi pelayanan publik.
– Transparansi Pemerintah: Badan Gizi Nasional harus berhenti bersikap defensif dan segera melakukan langkah konkret untuk menjamin keamanan dan keselamatan warga Kebumen.
Berhentilah menjadi penonton! Segera ambil tindakan nyata sebelum rentetan kegagalan manajemen ini menelan korban jiwa yang lebih besar!
Publisher -Red
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.













