BIREUEN – Nasruddin, atau yang akrab disapa Nyak Dhien Gajah dari Garda Muda, menyoroti pola pemberitaan salah satu media siber yang dinilai tendensius terhadap Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh. Ia mengingatkan pentingnya menjaga marwah pers agar tetap berada pada koridor independensi.
Menurut Nyak Dhien, narasi yang dibangun dalam pemberitaan tersebut terkesan menggiring opini publik dan berpotensi mencederai prinsip profesionalitas pers.
“Media harus menjalankan fungsi kontrol sosial secara objektif dan berimbang. Jangan sampai fungsi tersebut bergeser menjadi alat untuk kepentingan tertentu yang justru merugikan integritas institusi pers itu sendiri,” ujar Nyak Dhien dalam keterangannya, Senin (16/2).
Ia berharap Dewan Pers serta organisasi profesi seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dapat memberikan perhatian atau evaluasi jika ditemukan indikasi pelanggaran Kode Etik Jurnalistik (KEJ).
Nyak Dhien juga menyinggung adanya dugaan penyalahgunaan profesi untuk kepentingan pribadi. Ia mensinyalir bahwa serangan pemberitaan ini muncul bertepatan dengan adanya kebijakan pemangkasan dana Pokok Pikiran (Pokir) yang dilakukan oleh Sekda Aceh.
“Kami menduga ada kaitan antara kebijakan pemotongan dana pokir dengan intensitas serangan terhadap Sekda. Pers tidak boleh dijadikan sarana untuk menekan pejabat publik demi keuntungan tertentu,” tambahnya.
Lebih lanjut, Nyak Dhien menekankan bahwa kebebasan pers adalah pilar demokrasi yang harus dijaga bersama. Namun, kebebasan tersebut harus dibarengi dengan tanggung jawab moral dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
“Kita ingin publik tetap percaya pada produk jurnalistik. Jangan sampai karena ulah oknum atau media tertentu yang tidak patuh pada etik, citra seluruh pekerja media menjadi buruk di mata masyarakat,” tutupnya.
Publisher -Red
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










