KEBUMEN, SIDOBUNDER, Senin (6/4/2026) – Suasana di RT 05 RW 01, Dukuh Tunjungan Kidul, Desa Sidobunder, kini berubah mencekam. Bukan karena tindak kriminal, melainkan serbuan ribuan lalat yang diduga bersumber dari kandang ayam milik pasangan Sutrisno dan Bandriyah. Masalah yang telah berlarut sejak akhir tahun 2025 ini kini mencapai puncaknya, menjadi krisis kesehatan dan sosial bagi warga setempat.
Keluhan yang disampaikan warga mencerminkan situasi yang kian mengkhawatirkan. Seorang ibu rumah tangga yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengungkapkan betapa buruknya kualitas hidup mereka sehari-hari akibat fenomena ini.
“Lalat ada di mana-mana. Ruang tamu, dapur, sampai masuk ke dalam sedotan minuman. Kami makan dalam bayang-bayang penyakit,” ujarnya dengan nada geram.
Dampak nyata mulai dirasakan masyarakat; sejumlah warga dilaporkan mengalami gejala sakit perut hingga muntah-muntah. Tak hanya kesehatan, sektor ekonomi lokal pun turut lumpuh. Seorang pedagang bubur di sekitar lokasi mengaku usahanya berada di ambang kebangkrutan karena pembeli merasa jijik melihat lalat yang mengerumuni tempat dagangannya.
Kritik tajam diarahkan pada prosedur operasional kandang tersebut. Informasi yang dihimpun menunjukkan bahwa pemilik diduga tidak pernah menjalin komunikasi atau meminta izin kepada tetangga maupun pengurus RT/RW saat mulai beroperasi pada Desember 2025.
Ketidakhadiran pemilik yang sering bekerja di luar kota dituding menjadi penyebab utama terbengkalainya sanitasi kandang. Warga menilai, tindakan pembersihan baru dilakukan secara reaktif setelah muncul protes keras, bukan sebagai bentuk tanggung jawab rutin yang terjadwal.
Menanggapi gelombang protes tersebut, Bandriyah selaku pemilik kandang memberikan pembelaannya saat ditemui media di lokasi pada Senin (6/4). Ia menepis tudingan bahwa pihaknya abai terhadap kebersihan.
“Kami sudah melakukan penyemprotan rutin setiap hari, pemberian obat, hingga penggunaan karbit. Kotoran ayam pun kami bersihkan setiap tiga hari sekali,” klaim Bandriyah. Ia menambahkan bahwa faktor cuaca, terutama kelembapan tinggi di musim hujan, menjadi pemicu utama meledaknya populasi lalat.
Terkait skala usaha, Bandriyah menjelaskan bahwa populasi ayam miliknya hanya berkisar 600 ekor. Menurutnya, jumlah ini relatif kecil dibandingkan peternak lain yang populasinya mencapai ribuan. Meski demikian, ia menyatakan terbuka jika warga atau pihak berwenang ingin melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi kandangnya.
Meski pemilik mengaku telah bersikap kooperatif terhadap teguran pengurus RT, kesabaran warga tampaknya sudah habis. Ancaman untuk melaporkan kasus ini ke Dinas Kesehatan kini mulai bergulir.
Warga mendesak dinas terkait segera turun tangan untuk melakukan uji kelayakan lingkungan. Hal ini penting guna memastikan apakah upaya penyemprotan yang diklaim pemilik sudah sesuai standar sanitasi, ataukah lokasi kandang yang berada di tengah pemukiman padat memang sudah tidak layak lagi untuk dipertahankan.
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi para pelaku usaha mikro bahwa mengejar profit tidak boleh mengabaikan etika bertetangga dan standar kesehatan masyarakat luas.
Publisher -Red
Reporter CN -Waluyo
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










