KEBUMEN, 14 April 2026– Sikap rendah hati dan respon cepat yang ditunjukkan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Jabres, Kecamatan Sruweng, dalam menindaklanjuti masukan warga patut menjadi contoh. Alih-alih bersikap defensif, pihak pengelola justru menjadikan kritik masyarakat sebagai momentum untuk melakukan transformasi besar pada sistem drainase dan pengolahan limbah mereka.
Penanggung jawab dapur, Rahmawati, menegaskan bahwa keterbukaan terhadap kritik adalah kunci utama menuju profesionalisme. Baginya, masukan dari masyarakat adalah bentuk kepedulian yang harus dijawab dengan aksi nyata.
“Kami berterima kasih sedalam-dalamnya atas saran dan masukan semua pihak demi kelayakan dan kesempurnaan bersama. Tanpa adanya masukan tersebut, kami tidak akan pernah berubah. Kami berkomitmen untuk menjadi lebih baik dan segera melakukan perbaikan total,” ungkap Ramwati dengan penuh semangat.
Aksi cepat tanggap ini segera diwujudkan melalui langkah-langkah teknis di lapangan:
Normalisasi Drainase: Pembersihan menyeluruh terhadap sumbatan puing dan material padat di saluran pembuangan untuk menjamin kelancaran aliran air.
Transisi Teknologi IPAL: Mempercepat implementasi sistem otomatisasi pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) guna memastikan standar kebersihan lingkungan tetap terjaga meski dalam kapasitas produksi besar (1.460 porsi per hari).
Komitmen Higienitas: Penguatan manajemen pemeliharaan fasilitas titik nol guna menjamin bahwa program gizi nasional ini berjalan beriringan dengan kelestarian sanitasi warga Jabres dan sekitarnya.
Langkah yang diambil oleh Dapur Gizi Sruweng ini membuktikan bahwa dedikasi terhadap program nasional harus dibarengi dengan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan dan kepekaan sosial. Kontribusi mereka dalam menyerap 30% tenaga kerja lokal kini semakin lengkap dengan adanya itikad baik untuk menjaga kesehatan lingkungan.
Keberanian mengakui kekurangan dan keinginan untuk terus belajar menjadikan SPPG Sruweng sebagai model percontohan bagi satuan pelayanan lainnya. Bahwa kualitas sebuah lembaga tidak hanya diukur dari apa yang dihasilkan, tetapi juga dari seberapa cepat mereka bergerak untuk melakukan perbaikan demi kepentingan publik.
Dengan pembenahan yang sedang berjalan, masyarakat kini dapat melihat optimisme baru: sebuah dapur gizi yang tidak hanya mencukupi kebutuhan nutrisi siswa, tetapi juga menjadi tetangga yang baik bagi lingkungan pemukiman.
Publisher -Red
Reporter: Waluyo
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










