
TANGERANG,27 Agustus 2025– Anggaran fantastis senilai lebih dari Rp230 miliar yang dialokasikan untuk Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tangerang kini menjadi sorotan tajam publik dan aktivis. Alokasi dana untuk Rencana Strategis (Renstra) 2024-2026 ini dipertanyakan karena berbagai masalah transportasi dasar di Kota Tangerang masih belum teratasi.
Masyarakat mengeluhkan masih seringnya Lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) padam di sejumlah ruas jalan utama, termasuk Jalan Baru Pinang Kunciran, Jalan Benteng Betawi, dan area di depan Kantor Kelurahan Kunciran Indah. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan dan tindak kriminal.
Selain PJU, kemacetan lalu lintas juga masih menjadi masalah utama bagi warga. Berdasarkan laporan kinerja Dishub, kecepatan rata-rata perjalanan diklaim meningkat menjadi 26,02 km/jam. Namun, realitas di lapangan menunjukkan titik-titik kemacetan parah yang sulit terurai, seperti di Jalan M. Toha dan sekitar pintu kereta Stasiun Poris. Parkir liar di bahu jalan juga dilaporkan semakin memperparah kondisi lalu lintas.
Laporan Kinerja vs. Realitas di Lapangan
Dalam laporan resminya, Dishub Kota Tangerang mengklaim telah mencapai target utama. Angka penyerapan anggaran pada tahun 2024 diklaim mencapai 94,34% atau sebesar Rp160,11 miliar. Berikut beberapa klaim yang tercantum dalam laporan:
* Peningkatan Angkutan Umum: Laporan menyebutkan jumlah penumpang angkutan umum mencapai 1.147.829 orang, melampaui target yang ditetapkan. Inovasi seperti pengembangan Bus Rapid Transit (BRT Tayo) dan Si Benteng memang patut diapresiasi, namun laporan tersebut tidak menjelaskan secara rinci sejauh mana layanan ini mampu mengatasi masalah transportasi secara keseluruhan, terutama di area yang tidak terjangkau.
* Keselamatan Transportasi: Laporan mengklaim target pencapaian 100% untuk 20 ruas jalan berkeselamatan dan pengujian kendaraan bermotor yang melebihi target. Namun, klaim ini dinilai bertolak belakang dengan keluhan masyarakat mengenai minimnya PJU dan kondisi jalan yang tidak memadai, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai korelasi antara klaim keselamatan dan kondisi riil di lapangan.
Kontradiksi antara data laporan yang positif dan keluhan masyarakat yang terus bermunculan mengindikasikan adanya celah antara perencanaan strategis dan implementasi program.
Publik berharap Dishub tidak hanya berfokus pada angka-angka serapan anggaran, tetapi juga melakukan evaluasi mendalam terhadap dampak nyata setiap program bagi masyarakat Kota Tangerang.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Perhubungan Kota Tangerang, Achmad Suhaely, belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi yang telah dikirimkan oleh wartawan pada Selasa, 26 Agustus 2025.
Publisher -Red