MUARA BUNGO, 11 April 2026 – Keberadaan objek vital negara, Bandara Muara Bungo, kini berada dalam ancaman serius akibat kian masifnya aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Penggunaan merkuri secara terbuka di kawasan tersebut tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga memicu tudingan miring terhadap Pemerintah Daerah dan Aparat Penegak Hukum (APH) yang dinilai “mandul” dalam bertindak.
Meski dampak kerusakan lingkungan sudah terpampang nyata, aktivitas ilegal ini seolah tak tersentuh hukum. Penggunaan zat kimia berbahaya jenis merkuri telah menjadi bom waktu bagi kesehatan masyarakat Bungo. Lokasi tambang yang mengepung area bandara mencerminkan betapa lemahnya wibawa otoritas keamanan di mata para mafia tambang.
Ketua Yayasan Pengurus Badan Reaksi Cepat (BARET) Penanggulangan Bencana Alam ICMI Jakarta sekaligus Ketua Yayasan Universitas Muara Bungo, **Andriansyah, SE., M.Si**, dalam diskusi interaktif baru-baru ini, menyoroti fenomena pembiaran yang terjadi di depan mata.
“Mana tindakan nyata pemerintah dan APH? Ketajaman, ketegasan, dan keberanian yang sering didengungkan selama ini patut dipertanyakan keberadaannya. Saat lingkungan hancur dan rakyat terancam limbah kimia, otoritas di Bungo justru terkesan menutup mata dan telinga,” tegas salah satu aktivis dalam orasinya di hadapan publik.
Skandal pembiaran ini memicu eskalasi kritik keras dari berbagai elemen masyarakat pada April 2026. Lemahnya pengawasan dan ketiadaan penegakan hukum yang konkret memunculkan persepsi bahwa hukum di Kabupaten Bungo hanya tajam ke bawah namun tumpul terhadap para pemodal tambang ilegal.
Operasi PETI yang dilakukan secara terbuka tanpa izin ini telah mengabaikan aspek keselamatan lingkungan demi keuntungan segelintir pihak. Pemerintah Kabupaten Bungo dan aparat kepolisian setempat kini ditantang untuk membuktikan komitmennya: apakah berani mengambil langkah represif untuk menutup “lubang maut” tersebut, atau membiarkan Bumi Langkah Serentak Tak Terpijak ini tenggelam dalam limbah merkuri selamanya.
Publik kini menunggu, apakah negara akan hadir atau justru tetap memberikan panggung bagi para perusak alam untuk terus beroperasi dengan aman di balik bayang-bayang ketidakberdayaan regulasi.
Publisher -Red
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










