CIKAMPEK, 16 Februari 2026 – Industri pupuk nasional tengah berada di titik nadir akibat jeratan biaya energi yang kian mencekik. PT Pupuk Kujang Cikampek melaporkan lonjakan konsumsi gas bumi yang fantastis mencapai Rp 682,82 miliar sepanjang tahun 2024. Angka ini bukan sekadar beban akuntansi, melainkan “vonis” yang mengancam keberlangsungan operasional pabrik, terutama unit legendaris Kujang 1A.
Lonjakan biaya ini menelanjangi rapuhnya struktur biaya produksi di Cikampek. Gas bumi, yang merupakan komponen biaya utama (mencapai 70-80% dari total biaya produksi amonia), kini bertransformasi menjadi beban yang melumpuhkan margin perusahaan.
Sorotan tajam tertuju pada Pabrik Kujang 1A. Sebagai unit produksi senior, Kujang 1A kini terjebak dalam dilema teknologi:
– Teknologi Tua: Konsumsi gas yang boros dibanding unit modern.
– Keekonomian Rendah: Dengan kenaikan biaya Rp 682,82 miliar, operasional unit ini praktis berada di ambang batas “merugi”.
– Ancaman Shutdown: Tanpa intervensi harga gas atau subsidi yang tepat sasaran, penghentian operasi (shutdown) permanen bukan lagi isapan jempol, melainkan konsekuensi logis yang tinggal menunggu waktu.
Kritik keras patut dilayangkan pada kebijakan energi industri saat ini. Jika Kujang 1A tumbang, dampaknya tidak hanya berhenti di pagar pabrik Cikampek, tetapi akan memicu guncangan sistemik:
– Defisit Stok: Kapasitas produksi pupuk nasional akan merosot tajam.
– Kedaulatan Semu: Janji swasembada pangan akan kandas jika ketergantungan pada pupuk impor meningkat akibat pabrik dalam negeri mati suri.
– PHK Terselubung: Penghentian operasi unit besar akan berdampak langsung pada nasib ribuan tenaga kerja dan ekosistem ekonomi di wilayah Cikampek.
Lonjakan biaya Rp 682,82 miliar ini adalah bukti otentik bahwa sektor manufaktur strategis sedang “dibiarkan” bertarung sendirian melawan fluktuasi harga energi. Tanpa kebijakan harga gas bumi yang kompetitif, industri pupuk nasional hanya akan menjadi monumen sejarah di tengah ambisi kedaulatan pangan yang paradoks.
Pertanyaannya: Apakah pemerintah akan membiarkan aset strategis ini rontok satu per satu demi efisiensi pasar, ataukah ada keberanian politik untuk menyelamatkan fondasi pertanian kita sebelum Kujang 1A benar-benar berhenti berdenyut?
Publisher -Red
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










