MOROWALI, SULAWESI TENGAH – 15 Februari 2026– Seruan perlawanan terhadap maraknya penyalahgunaan dan peredaran narkotika jenis sabu di Kabupaten Morowali terus menguat. Setelah sebelumnya mantan Ketua DPRD Morowali, Irwan Arya, memberikan sorotan tajam, kini giliran aktivis anti-narkoba, Rustam Lombe, yang angkat bicara mengenai kondisi daerah yang kian meresahkan.
Menurut Rustam, peredaran barang haram di Morowali saat ini tergolong masif dan telah merambah hampir seluruh lapisan masyarakat di berbagai kecamatan.
Rustam memaparkan bahwa penyalahgunaan narkoba tidak lagi mengenal latar belakang profesi. Mulai dari pelajar SMP dan SMA, pemuda, karyawan swasta, hingga oknum pemerintah desa, PNS, politisi, kontraktor, bahkan oknum aparat penegak hukum (APH).
“Kita pernah mendengar adanya penangkapan anggota DPRD aktif, oknum PNS, hingga oknum kepala desa di Morowali yang terlibat sabu. Ini membuktikan bahwa peredaran narkoba sudah pada tahap yang sangat meresahkan,” ujar Rustam saat diwawancarai pada Minggu (15/2/2026).
Berdasarkan peta kerawanan, wilayah Kecamatan Bahodopi menempati urutan tertinggi, disusul oleh Kecamatan Bungku Tengah, Bungku Barat, Bungku Timur, dan Bungku Pesisir. Meski demikian, Rustam menegaskan bahwa enam kecamatan lainnya pun tidak luput dari ancaman tersebut, meski dalam skala yang berbeda.
Rustam menilai upaya pemberantasan yang dilakukan oleh APH maupun Pemerintah Daerah masih terkesan “setengah hati”. Ia menyoroti pola penindakan yang selama ini cenderung hanya menyentuh lapisan bawah.
“Pola yang terlihat di publik seringkali sebatas menggugurkan kewajiban. Penangkapan hanya menyasar kurir dan pemakai yang ibarat ‘pion’, sementara bandar besar atau ‘raja’ di balik sirkulasi ini seringkali tidak tersentuh,” tegasnya.
Ia pun menduga Morowali menempati posisi puncak dalam skala peredaran narkoba di tingkat kabupaten/kota se-Sulawesi Tengah. Hal ini memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat mengenai komitmen penuntasan kasus secara menyeluruh oleh pihak Kepolisian maupun Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Morowali.
“Seringkali pengembangan kasus terhenti pada kurir. Situasi ini memicu pertanyaan publik, apakah ada perlindungan atau ‘beking’ terhadap bandar-bandar besar ini?” cetus Rustam.
Menutup pernyatannya, Rustam mengajak seluruh elemen masyarakat dan instansi pemerintah untuk bersinergi mengibarkan bendera perang terhadap narkotika secara nyata, bukan sekadar seremonial.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan program pembangunan daerah akan sia-sia jika generasi penerusnya hancur akibat narkoba. “Sebagus apa pun program pemerintah, jika kepedulian terhadap pemberantasan narkoba masih minim, maka hasilnya akan percuma,” pungkasnya.
Publisher -Red
Reporter CN -Nakir
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










