JAKARTA – 7 Februari 2026 — Sekretaris Jenderal Perkumpulan Pimpinan Redaksi Indonesia Maju (PRIMA), Jhon, melontarkan kritik keras terhadap fenomena degradasi moral jurnalisme di berbagai wilayah Indonesia. Ia menyoroti munculnya oknum wartawan dan pimpinan redaksi yang beralih fungsi menjadi “penjilat” kepentingan dengan memproduksi berita sanggahan tanpa dasar data yang kuat demi membela pihak bermasalah.
Jhon memberikan analogi pedas bagi oknum yang profesinya hanya memoles narasi pencitraan dan menghapus fakta melalui berita testimoni pesanan.
“Wartawan itu tugasnya memotret realita, bukan memoles citra. Jika cita-citamu hanya ingin mempercantik sesuatu yang buruk agar terlihat indah, maka kau salah profesi! Jika ingin menjadi perias, bekerjalah di salon, bukan di redaksi. Di salon, kau bisa membedaki wajah orang sesukamu tanpa harus menodai marwah profesi jurnalis,” tegas Jhon.
Bagi mereka yang lebih loyal kepada “pemberi upah” karena takut jasanya tidak digunakan lagi, Jhon mendesak agar mereka bersikap jujur dan keluar dari institusi pers.
“Kau itu salah jalan! Jika jiwamu adalah Humas atau Juru Bicara, lepaskan kartu persmu sekarang juga. Jangan jadi benalu di dunia pers. Buatlah surat lamaran resmi ke instansi atau pihak yang kau bela itu. Jika beruntung dan lamaranmu diterima, kau bisa mengabdi dan menjilat di sana selamanya tanpa perlu merusak kredibilitas rekan sejawat yang bekerja dengan keringat investigasi,” sindir Jhon dengan sangat tajam.
PRIMA mengecam keras tindakan menuduh berita kritis orang lain sebagai “Hoax” atau melabeli jurnalis lain sebagai “oknum, atau mengaku wartawan dan lainnya” demi menyenangkan pemberi pesanan. Menurut Jhon, hal ini adalah bentuk “Kanibalisme Karakter” yang didorong oleh mentalitas pengemis demi beberapa lembar rupiah.
“Sangat menjijikkan melihat pimpinan redaksi menggadaikan harga diri karena takut tidak laku. Mereka menjatuhkan sesama jurnalis tanpa data dasar yang akurat hanya untuk ‘mencari muka’. Ini adalah pelacuran profesi yang harus kita ganyang bersama,” tambahnya.
PRIMA juga mengingatkan bahwa tindakan melakukan screenshot berita, mencatut cover, atau menyalin isi berita media lain untuk dijadikan narasi sanggahan pesanan adalah pelanggaran berat UU Hak Cipta dan UU ITE.
“Dunia pers butuh jurnalis yang memiliki harga diri, bukan ‘babu’ kepentingan yang sibuk memoles borok birokrasi. Kita di PRIMA mendorong pimpinan redaksi untuk kembali tegak lurus pada Kode Etik. Jadilah jurnalis yang dicari karena kredibilitas, bukan perias yang dicari karena kepandaiannya menjilat!” tutup Jhon.
Publisher -Red
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.











