SUBULUSSALAM – 17 Februari 2026. Kritikan pedas menghantam langkah politik Wali Kota Subulussalam, H. Rasyd. Tokoh masyarakat, Mengapul Manik, menilai rentetan aksi sang Wali Kota belakangan ini lebih kental dengan aroma pencitraan dan haus popularitas ketimbang upaya substansial membangun daerah.
Mengapul Manik secara terang-terangan menengarai bahwa manuver H. Rasyd hanyalah strategi “investasi politik” untuk membangun basis massa di Aceh Singkil yang disebut-sebut sebagai kampung halamannya menuju kontestasi politik 2029 mendatang.
> “Pandangan saya sederhana: ini soal haus panggung dan upaya viral. Kritik itu instrumen demokrasi, tapi kalau tujuannya cuma cari sensasi tanpa isi, itu namanya meremehkan kecerdasan publik,” cetus Mengapul Manik saat memberikan keterangan pers, Selasa (17/2).
Mengapul juga menyoroti kegagalan H. Rasyd dalam menjawab substansi saat memenuhi undangan interpelasi DPRK. Ia menilai jawaban Wali Kota tidak nyambung dengan persoalan yang dipertanyakan dewan.
“Rakyat menonton. Ditanya apa, jawabnya apa. Tidak menyentuh inti persoalan. Ini memicu keraguan publik: apakah ini soal ketidakmampuan memahami tata kelola pemerintahan atau memang sengaja menghindar?” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengecam klaim berlebihan terkait pelantikan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). Mengapul mengingatkan bahwa P3K adalah program nasional berdasarkan regulasi Kementerian PAN-RB yang wajib dilaksanakan oleh seluruh kepala daerah di Indonesia.
“Siapa pun Wali Kotanya, wajib melantik P3K. Itu aturan pusat, bukan prestasi personal yang patut dipamerkan seolah-olah mukjizat kepemimpinan,” tambahnya dengan nada menyindir.
Terkait aksi siaran langsung (live) H. Rasyd yang menantang KPK, Kejaksaan, dan Polri untuk mengaudit anggaran tahun 2015–2025, Mengapul mendukung penuh transparansi, namun mengkritik cara yang dianggapnya kekanak-kanakan.
“Saya setuju 100 persen audit dilakukan. Tapi kalau memang punya bukti kuat, jadilah ksatria. Kumpulkan bukti konkret, lapor langsung ke aparat penegak hukum. Itu baru elegan dan bermartabat, bukan sekadar teriak-teriak di media sosial seolah sedang memicu kegaduhan,” ujarnya.
Mengapul memperingatkan agar narasi kritik yang dibangun tidak justru merendahkan martabat Kota Subulussalam di mata nasional. Ia menyayangkan kesan yang seolah-olah menggambarkan Subulussalam sebagai daerah paling “bobrok” di Indonesia.
“Jangan membuat narasi seakan kota ini paling tidak becus di negeri ini. Ingat, ada darah dan keringat para pejuang pemekaran serta tokoh-tokoh yang membangun daerah ini. Marwah Subulussalam harus dijaga, jangan dikorbankan demi ambisi politik pribadi,” tutup Mengapul.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih berupaya menghubungi Wali Kota Subulussalam, H. Rasyd, untuk mendapatkan klarifikasi dan ruang hak jawab atas kritik tersebut, namun yang bersangkutan belum memberikan respons.
Publisher -Red
Reporter CN -Amri
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










