JAWA TENGAH, 15 FEBRUARI 2026 – Panggung hiburan rakyat di salah satu sudut Jawa Tengah mendadak naik kasta menjadi teater komedi nalar tingkat tinggi. Publik kembali disuguhi atraksi ajaib dari duet maut: Sumantri, yang kini populer dengan julukan “Si Bacot Soang”, bersama Partner Setianya sang arsitek narasi halusinasi.
Pertunjukan ini mencuri perhatian karena metode risetnya yang melampaui logika bumi. Sang juru tulis dikabarkan kerap bekerja layaknya seorang perapal mantra; duduk bersila, bersemedi, dan menunggu bisikan gaib dari dimensi lain. Baginya, menulis bukanlah profesi untuk menampilkan kenyataan, melainkan sebuah ritual mistis untuk memanggil makhluk astral. Alhasil, fakta dan data lapangan sering kali “pensiun dini” demi menjaga estetika imajinasi agar tetap terbaca indah bagi para pemujanya.
Hal yang paling mengguncang akal sehat manusia waras pada umumnya adalah tumpukan sejarah (history) dan deretan judul cerita yang sudah lama menguliti borok Si Bacot Soang dan Juru Tulis Semedi ini. Namun, di sinilah letak komedinya: meskipun jejak intervensi dan narasi halusinasi mereka terpampang nyata, tidak ada satu pun tindakan tegas dari para Pendekar Ksatria atau Superhero Penegak Kebenaran.
“Apakah para Pendekar Ksatria dan Superhero ini sedang terhipnotis mantra gaib tersebut, ataukah mereka sedang asyik menikmati peran sebagai ‘Penonton VIP’ di barisan depan? Apakah jubah kepahlawanan mereka sedang di-laundry, ataukah memang terjadi ketidakmampuan kolektif untuk mengungkap kebenaran yang sudah benderang?”
Keangkuhan duet ini nampaknya mendapat “pupuk” terbaik dari barisan pemuja yang memiliki frekuensi akal sehat serupa. Dengan dukungan para pemuja yang tampak asyik dalam jeratan “sirep” atau guna-guna, kelompok ini semakin berani melakukan upaya intervensi demi memuaskan syahwat ambisi dan ego koloninya. Sifat rakus dan tamak akan pengakuan membuat mereka merasa dunia ini hanyalah panggung sandiwara milik mereka sendiri, di mana hukum hanyalah bak mitos pengantar tidur.
Babak yang paling memprihatinkan adalah saat Si Bacot Soang menyerang kehormatan Sopo Kito. Bukannya menyadari bahwa tulisan hasil “ritual isi kitab lama” tersebut cacat logika, ia justru membenarkan narasi imajiner tersebut dan malah melayangkan ancaman terbuka.
Sikap ini dipandang sebagai bukti klinis adanya insiden “Saraf Otak Terputus”. Ketika kabel antara etika, kemampuan mengolah data, dan rasa malu sudah padam, yang tersisa hanyalah bunyi nyaring yang mengganggu telinga, persis seperti pantulan gema di ruang halusinasi: ada, namun tak terlihat nyata.
Masyarakat kini mulai paham: menulis itu seharusnya menampilkan kenyataan, bukan sedang latihan menjadi dukun imajinasi. Satu pelajaran penting: jangan sampai saraf di kepala terputus hanya karena terlalu asyik menghirup asap imajinasi dan melupakan indahnya fakta di bumi.
Dan bagi para Ksatria atau Superhero, ingatlah bahwa membiarkan drama halusinasi ini berlarut-larut hanya akan mempertegas pertanyaan publik: apakah jubah kalian benar-benar untuk melindungi kebenaran, atau hanya aksesori pemanis saat menonton panggung sandiwara Si Bacot Soang?
Publisher: Red
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










