KARANGANYAR, KEBUMEN (6 Januari 2026) – Kepulan asap hitam dari tungku kayu bakar membumbung di sepanjang jalan RT 01 RW 02 Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar. Bukannya kebakaran, asap tersebut berasal dari drum-drum aspal yang sedang dipanaskan secara manual oleh puluhan warga. Di bawah terik matahari, masyarakat setempat memutuskan untuk “jemput bola” memperbaiki infrastruktur mereka melalui aksi gotong royong murni, Selasa (6/1).
Langkah ini diambil sebagai bentuk kemandirian warga yang enggan berpangku tangan menunggu bantuan formal di tengah kondisi jalan yang kian memprihatinkan. Tanpa alat berat, warga menggunakan metode tradisional memasak aspal dengan kayu bakar dan menghamparkannya secara manual sebagai simbol perlawanan terhadap debu dan kerusakan jalan yang selama ini mengganggu mobilitas.
Aksi yang dimulai sejak pagi hari ini melibatkan hampir seluruh elemen masyarakat di lingkungan tersebut. Dana yang digunakan sepenuhnya berasal dari iuran sukarela warga (swadaya murni), yang dikumpulkan melalui musyawarah tingkat RT.
“Kami tidak ingin sekadar mengeluh atau menunggu tanpa kepastian. Hari ini kami membuktikan bahwa dengan keterbatasan alat dan dana seadanya, kalau kita bersatu, jalan ini bisa kita perbaiki sendiri,” ujar salah satu koordinator warga di lokasi.
Aktivitas ini memperlihatkan pembagian peran yang organik: sebagian warga pria bertugas membelah kayu dan menjaga api tungku, sementara yang lain mengangkut material dan meratakan aspal. Ibu-ibu warga pun turut andil dengan menyediakan logistik makanan dan minuman secara sukarela.
Langkah warga RT 01 RW 02 Desa Grenggeng ini mengandung pesan mendalam mengenai penguatan modal sosial di tingkat basis:
– Kemandirian Ekonomi: Membuktikan bahwa pembangunan desa bisa diinisiasi dari bawah (bottom-up) tanpa ketergantungan penuh pada birokrasi.
– Solidaritas Tanpa Sekat: Seluruh proses, mulai dari pengumpulan dana hingga pengerjaan fisik, dilakukan secara transparan dan demokratis.
– Kearifan Lokal: Penggunaan metode tradisional di tengah modernitas menunjukkan daya adaptasi warga dalam mengatasi keterbatasan sarana prasarana.
Aksi ini diharapkan menjadi pemantik bagi wilayah lain untuk tidak kehilangan jati diri bangsa, yakni gotong royong. Di saat banyak pihak terjebak dalam keluhan di media sosial, warga Grenggeng memberikan aksi nyata.
Hingga sore hari, pengerjaan masih terus berlangsung. Aspal hitam yang mereka hampar bukan sekadar penutup lubang jalan, melainkan simbol “perekat” silaturahmi dan kedaulatan warga atas lingkungannya sendiri.
Publisher -Red
Reporter CN -Waluyo
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










