ACEH SINGKIL (12/3/2026) – Integritas lembaga legislatif Kabupaten Aceh Singkil kini berada di titik nadir. Sebuah skandal inkonsistensi politik pecah setelah tiga anggota DPRK Aceh Singkil memutuskan “angkat kaki” dari barisan pengusul Hak Interpelasi terhadap eksekutif. Langkah ini memicu reaksi keras, bahkan kecaman terbuka dari unsur pimpinan dewan yang menilai adanya aroma pengkhianatan terhadap komitmen awal.
Wakil Ketua II DPRK Aceh Singkil, Wartono, tidak menyembunyikan kegeramannya. Ia menyebut tindakan mundur di tengah jalan ini bukan sekadar dinamika politik biasa, melainkan sebuah “jebakan” bagi rekan sejawat yang sejak awal berkomitmen menjalankan fungsi pengawasan demi kepentingan rakyat.
“Sangat memuakkan melihat sikap yang tidak punya pendirian ini. Merekalah yang awalnya menjadi motor penggerak untuk interpelasi, tapi setelah bola bergulir, mereka justru lari menyelamatkan diri. Ini adalah preseden buruk bagi marwah lembaga!” tegas Wartono dengan nada pedas, Kamis (12/3).
Kritik lebih menusuk datang dari Juliadi Bancin. Ia secara berani menyentil adanya kemungkinan tekanan atau “kepentingan terselubung” di balik mundurnya tiga anggota dari Fraksi Gerakan Pembangunan Berkarya (GPB) berinisial HT, DM, dan RB tersebut.
“Publik tidak bodoh. Kami patut menduga ada intervensi dari pihak tertentu yang membuat mereka mendadak balik arah secara tidak wajar. Jika tidak ada ‘sesuatu’ yang menekan atau menggiurkan di balik layar, tidak mungkin mereka lari dari persatuan interpelasi yang mereka gagas sendiri. Ini sangat memalukan!” cetus Juliadi.
Ketua DPRK Aceh Singkil, H. Amaliun, menegaskan bahwa marwah legislatif tidak boleh digadaikan oleh oknum-oknum pragmatis. Ia memastikan bahwa mundurnya ketiga anggota tersebut justru akan dijawab dengan eskalasi politik yang lebih tinggi ke arah Hak Angket.
“DPRK harus punya harga diri di hadapan masyarakat. Interpelasi ini bukan main-main. Kita tidak akan berhenti di sini. Biarlah masyarakat yang menilai siapa yang benar-benar berjuang dan siapa yang ‘menjual’ amanahnya demi kepentingan sesaat,” ujar Amaliun dengan tegas.
Wartono menutup pernyataannya dengan pesan moral yang sangat tajam bagi rekan sejawatnya yang dianggap “tak punya tulang punggung” politik tersebut.
“Kita duduk di sini karena amanah rakyat, bukan untuk cari aman atau sekadar mencari keuntungan pribadi. Pesan saya untuk mereka: bertaubatlah sebelum terlambat. Jangan sampai sejarah mencatat kalian sebagai pengkhianat suara rakyat Aceh Singkil yang telah memberi kalian mandat,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, ketiga anggota dewan yang bersangkutan (HT, DM, dan RB) belum memberikan klarifikasi atau tanggapan resmi terkait alasan pengunduran diri mereka.
Redaksi kami menjunjung tinggi azas keberimbangan dan dengan ini MEMBUKA RUANG HAK JAWAB seluas-luasnya bagi pihak terkait untuk mengonfirmasi atau memberikan penjelasan tambahan atas pernyataan narasumber dalam berita ini.
Reporter CN -Amri
Publisher -Red
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










