KEBUMEN – 18 Februari 2026- Dinding hijau kusam bertuliskan “Peternakan Terpadu BUMDesma Manggala Praja Gombong” di Desa Kemukus kini tak lebih dari sekadar monumen kegagalan. Bangunan yang seharusnya menjadi simbol kemandirian ekonomi desa di Kabupaten Kebumen tersebut kini meranggas, menyisakan kandang kosong dan aset yang dibiarkan membusuk dimakan usia.
Hasil investigasi di lapangan menunjukkan pemandangan yang kontras dengan tujuan mulia pendirian BUMDesma. Tidak ada lagi lenguhan sapi atau aktivitas produktif. Yang tersisa hanyalah sebuah gerobak berkarat serta satu unit mobil bak terbuka yang teronggok tak berdaya di tengah kepungan rumput liar.
Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan adanya suntikan dana yang sangat fantastis. Seorang mantan perangkat desa mengungkapkan bahwa pada tahun 2022, setiap desa diduga menyetorkan penyertaan modal sebesar Rp100 juta, disusul puluhan juta pada tahun berikutnya.
Tak hanya itu, pihak Kecamatan Gombong melalui stafnya mengungkapkan adanya dugaan bantuan dari dinas terkait sebesar Rp500 juta yang dialokasikan untuk pembangunan kandang dan pengadaan bibit.
“Dulu sapinya banyak, sekarang kosong. Tidak tahu kenapa,” ujar seorang warga di sekitar lokasi dengan nada penuh tanya.
Ironisme semakin kental saat menilik operasional kantor BUMDesma. Saat disambangi media, jajaran direksi seolah sulit ditemui. Direktur Utama tidak pernah berada di tempat, sementara Sekretaris dan Bendahara pun terkesan “licin” saat diminta klarifikasi terkait kondisi perusahaan.
Seorang karyawan yang mengaku digaji Rp1,2 juta per bulan menyatakan bahwa pimpinannya jarang terlihat di kantor. Lebih memprihatinkan, kewajiban Musyawarah Antar Desa (MAD) untuk laporan pertanggungjawaban tahun 2025 hingga saat ini belum juga terlaksana.
Pihak Kecamatan mengaku telah berupaya mendorong evaluasi, namun hingga kini, transparansi anggaran dan keberadaan aset ternak tersebut masih menjadi teka-teki besar yang tak kunjung terjawab.
Publik kini menunggu jawaban tegas dari pihak terkait. Apakah kondisi ini murni akibat kegagalan bisnis, ataukah ada indikasi praktik korupsi dan tata kelola yang menyimpang?
Dana desa yang bersumber dari uang rakyat seharusnya bermuara pada kesejahteraan masyarakat, bukan justru menguap di balik jeruji kandang yang kosong dan terbengkalai.
Publisher -Red
Reporter CN -Waluyo
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










