KENDAL – Dinamika demokrasi Indonesia pasca-reformasi dinilai sedang menghadapi tantangan serius, terutama terkait ketersediaan ruang publik yang sehat dan partisipatif. Merespons fenomena penyempitan ruang kritik dan tekanan terhadap kebebasan berpendapat, sejumlah elemen menggelar diskusi strategis di Kantor YLBH Putra Nusantara, Kendal, Jumat (27/2/2026).
Diskusi bertajuk “Menakar Ulang Peran Strategis dalam Menjaga Ruang Sipil” tersebut mempertemukan tiga pilar penting: mahasiswa sebagai penggerak, pers sebagai penyampai informasi, dan lembaga bantuan hukum sebagai pendamping keadilan.
Acara ini dihadiri oleh perwakilan berbagai organisasi mahasiswa, termasuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), serta praktisi hukum dan jurnalis. Para narasumber membedah persoalan demokrasi dari sudut pandang profesi masing-masing:
– Tiyo Ardianto (Presiden BEM UGM): Menekankan peran mahasiswa sebagai agent of change yang memiliki tanggung jawab moral mengawal kebijakan publik agar tetap berpihak pada kepentingan masyarakat luas.
– Irsyad Akil (Jurnalis): Menyoroti pentingnya independensi pers sebagai pilar keempat demokrasi dalam menjalankan fungsi kontrol sosial meski di tengah tantangan zaman.
– Roza Baguss (YLBH Putra Nusantara): Menggarisbawahi urgensi advokasi yang konsisten untuk memastikan tegaknya supremasi hukum yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat.
– Saroji (Ketua YLBH Putra Nusantara): Menekankan pentingnya penyediaan ruang aman bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan kritis secara konstruktif.
Dalam dialektika tersebut, peserta menyepakati bahwa kolaborasi lintas sektor antara mahasiswa, pers, dan LBH merupakan syarat mutlak untuk menjaga ekosistem demokrasi. Tanpa publikasi pers yang berani, gerakan mahasiswa dinilai akan kehilangan resonansi; sementara tanpa pendampingan hukum, aktivis rentan menghadapi upaya kriminalisasi.
Ketua YLBH Putra Nusantara, Saroji, yang bertindak sebagai fasilitator kegiatan, menyatakan bahwa inisiatif ini lahir dari keinginan untuk memberikan wadah bagi pemikiran kritis yang sehat.
“Kami selaku tuan rumah ingin memberikan ruang bagi diskusi ini agar rekan-rekan mahasiswa memiliki wadah yang tepat untuk mengutarakan keresahan mereka terkait kondisi demokrasi saat ini. Kami ingin memastikan api kritis ini tetap hidup dalam koridor yang konstitusional dan konstruktif,” ujar Saroji kepada awak media.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pemantik bagi gerakan serupa di berbagai daerah, sekaligus mempertegas bahwa ruang sipil harus terus dijaga demi masa depan demokrasi Indonesia yang lebih terbuka. (zen)
Publisher -Red
Reporter CN -Zen
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










