Solo,Jawa Tengah -17 Desember 2025 – Suasana haru biru usai gol penyeimbang Liga 3 di Stadion Banyuanyar, Solo, pada Selasa malam (16/12), tiba-tiba berubah pahit. Laga antara Persibo Bojonegoro melawan Persinab Nabire menyisakan catatan yang jauh dari semangat fair play yang didengungkan, lantaran terjadi dugaan insiden pelecehan verbal yang melibatkan sejumlah oknum pemain Persibo dengan warga setempat.
Peristiwa ini menjadi ironi tajam. Di tengah upaya PSSI mengampanyekan No Racism dan Stop Bullying di kancah sepak bola, sejumlah pemain justru dilaporkan melontarkan kata-kata tidak pantas kepada penonton setelah Persinab Nabire menyamakan kedudukan pada masa injury time babak kedua.
Bukan suporter tim lawan yang menjadi sasaran, melainkan masyarakat sekitar stadion yang sebagian besar adalah anak-anak dan ibu-ibu yang menonton dari rumah-rumah mereka di pinggiran Stadion Banyuanyar. Keadaan inilah yang memicu kemarahan warga lokal.
Seorang warga yang enggan disebut namanya menuturkan kronologi kejadian. “Awalnya aman, tapi setelah gol itu, situasi berubah. Beberapa pemain Persibo mulai mengeluarkan kata-kata kasar ke arah warga. Pemain dengan ciri-ciri tertentu disebut-sebut paling memancing emosi,” ungkap warga tersebut, menggambarkan suasana yang memanas.
Insiden ini segera menjadi perhatian publik lokal. Masyarakat setempat kini mengajukan tuntutan yang mendesak: adanya permintaan maaf secara terbuka dari pemain yang bersangkutan dan pihak manajemen Persibo Bojonegoro.
Lebih jauh, warga menegaskan bahwa apabila tuntutan akuntabilitas tersebut tidak dipenuhi, mereka tidak akan menerima kehadiran Persibo untuk bertanding kembali di wilayah tersebut di masa mendatang.
Harapan besar juga dialamatkan kepada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Warga berharap PSSI tidak tinggal diam dan dapat mengambil sikap tegas. Mereka mendesak PSSI untuk memberikan sanksi yang sesuai kepada pemain yang terbukti bertindak di luar batas sportivitas dan etika. Langkah tegas PSSI dianggap krusial untuk menjaga marwah sepak bola nasional sekaligus menjamin rasa aman dan nyaman bagi masyarakat di sekitar arena pertandingan.
Insiden di Solo ini menjadi pengingat serius bagi seluruh insan sepak bola bahwa komitmen anti-diskriminasi dan anti-perundungan harus diwujudkan dalam perilaku nyata, melampaui sekadar slogan yang terpampang di sisi lapangan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak manajemen Persibo Bojonegoro terkait dugaan insiden ini.
Publisher -Red
Reporter: CN Luqman
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.













