PADANG, Senin, 13 April 2026 – Jalur maut Sitinjau Lauik kembali menjadi saksi bisu, bukan karena kecelakaan rem blong, melainkan karena kecelakaan moral sebuah rombongan kendaraan mewah. Sebuah rekaman video yang kini viral menunjukkan deretan mobil eksklusif nekat menghentikan arus lalu lintas di salah satu titik paling berbahaya di Sumatera Barat, hanya demi sesi dokumentasi pribadi.
Aksi yang mempertontonkan kekosongan empati ini memicu kecaman luas. Di tengah medan yang mewajibkan kendaraan besar menjaga momentum untuk menanjak, rombongan ini justru memilih ego daripada keselamatan, memaksa pengguna jalan lain berhenti demi “estetika” foto mereka.
Secara teknis, tindakan ini bukan sekadar pelanggaran lalu lintas biasa, melainkan bentuk intimidasi terhadap ruang publik. Menghentikan kendaraan di tikungan ekstrem dengan kemiringan tajam adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab secara akal sehat. Setiap detik yang mereka gunakan untuk berpose adalah risiko fatal bagi truk-truk logistik yang terancam gagal nanjak atau mengalami kerusakan mekanis akibat berhenti mendadak di tanjakan.
Tindakan ini dengan jelas mengangkangi Pasal 12 UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan, yang mengharamkan segala bentuk gangguan terhadap fungsi jalan. Ruang milik negara yang dibangun dari pajak rakyat, kini disandera oleh kepentingan privat yang dangkal.
Yang membuat publik semakin geram adalah keterlibatan oknum aparat yang justru memfasilitasi pelanggaran ini. Peran pengawalan yang seharusnya berfungsi untuk kelancaran dan keselamatan umum, justru “dijual” untuk menciptakan hambatan bagi rakyat banyak.
Insiden ini adalah potret nyata dari fenomena “mabuk pengakuan”. Keinginan untuk terlihat eksis di media sosial telah membutakan logika keselamatan dan rasa hormat terhadap hak orang lain. Siapa pun mereka, perilaku ini menunjukkan rendahnya standar moral dan literasi keselamatan berkendara.
Mereka mungkin memiliki akses terhadap kemewahan dan pengawalan, namun di mata publik, aksi di Sitinjau Lauik ini hanyalah pameran kebodohan yang telanjang. Jalan raya adalah milik bersama, bukan properti pribadi yang bisa dipesan untuk sesi foto di saat orang lain sedang bertaruh nyawa untuk mencari nafkah.
Publisher -Red
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










