
KEBUMEN – Rabu, 27 Agustus 2025. Unggahan viral di media sosial yang mengkritik kebijakan acara berbayar dan pungutan wajib di lingkungan pendidikan menuai sorotan tajam. Keluhan ini mencerminkan keresahan warga Kebumen yang merasa terbebani oleh pungutan finansial, terutama yang menimpa para orang tua murid.
Akun Facebook Siti Ani Asih dalam grup PAGUYUBAN WONG KEBU… melontarkan kritik pedas yang menyentuh inti masalah. Dengan nada satire, ia mempertanyakan relevansi slogan “Kebumen Beriman”, dengan ungkapan menohok, “kenapa semakin membuat orang kurang imannya.”
Kritik tersebut mengacu pada menjamurnya acara atau “event” yang kerap menarik biaya masuk dan parkir. Kebijakan ini dinilai sebagai beban tambahan yang mencekik ekonomi masyarakat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
Tidak hanya itu, unggahan tersebut juga menyoroti kejanggalan pada kegiatan wajib sekolah yang memungut biaya dari siswa dan guru. Penulis menekankan, kebijakan ini tidak mencerminkan empati terhadap realitas ekonomi yang berbeda-beda di kalangan siswa. Kondisi ini kontras dengan masa lalu, di mana acara besar dan kegiatan sekolah dapat dinikmati tanpa pungutan biaya. Hal ini memunculkan pertanyaan kritis: apakah pendidikan dan hiburan kini telah menjadi komoditas yang hanya dapat diakses oleh segelintir orang?
Postingan yang dibagikan ribuan kali ini menunjukkan kuatnya resonansi keluhan ini di tengah masyarakat. Masyarakat menuntut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen untuk tidak lagi abai terhadap keluhan rakyat. Respons cepat dan tindakan konkret sangat diharapkan untuk meninjau kembali kebijakan yang dinilai semakin meminggirkan masyarakat menengah ke bawah.
Hingga berita ini diterbitkan, unggahan tersebut telah dibanjiri ratusan komentar dan reaksi, menandakan betapa masifnya keresahan ini. Sorotan publik kini tertuju pada Pemkab Kebumen. Akankah suara rakyat didengar, atau justru diabaikan?
Publisher -Red
Reporter CN Waluyo