BENGKULU – 14 Januari 2026- Aroma ketidakberesan terendus dalam proyek rehabilitasi lapangan di SMP Negeri 3 Kota Bengkulu. Proyek yang dikerjakan oleh CV Gelora Gita Konstruksi ini menuai kritik tajam lantaran kualitas fisiknya yang dinilai buruk dan membahayakan siswa, meski pihak Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bengkulu mengklaim pekerjaan tersebut sudah sesuai prosedur volume.
Berdasarkan pantauan di lapangan dan laporan masyarakat, kondisi lapangan basket yang baru saja direhabilitasi tersebut tampak memprihatinkan. Permukaan semen tidak rata, dipenuhi tonjolan material batu, serta tekstur yang berkerut dan licin. Kondisi ini kontras dengan harapan akan fasilitas olahraga yang layak dan aman bagi siswa.
Seorang siswa yang enggan disebutkan namanya demi keamanan, mengaku sering terjatuh saat beraktivitas di lapangan tersebut.
“Sering jatuh kalau main basket karena banyak batu menonjol. Lapangannya juga licin. Kalau ditanya layak atau tidak, saya rasa kurang layak. Maunya ya dimuluskan lagi,” ujarnya polos.
Sikap mengejutkan justru datang dari Dinas Pendidikan Kota Bengkulu. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Dodon, saat dikonfirmasi menyatakan bahwa pekerjaan tersebut telah diterima karena dianggap telah memenuhi volume yang ditentukan dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Saat dikejar mengenai buruknya kualitas estetika dan fungsionalitas lapangan, jawaban yang diberikan terkesan diplomatis dan menghindari substansi. “Kita belum diaudit BPK Bang, dan ini masih dalam tahap pemeliharaan,” kilahnya.
Pernyataan ini memicu spekulasi bahwa Disdik Kota Bengkulu hanya menggugurkan kewajiban administratif (volume) tanpa memedulikan standar kualitas bangunan yang dibiayai oleh uang negara.
Di sisi lain, pihak CV Gelora Gita Konstruksi seolah “cuci tangan” atas kualitas pekerjaan yang kasar tersebut. Perwakilan kontraktor berdalih bahwa selama dinas sudah menerima pekerjaan dan mencairkan anggaran, maka tidak ada masalah dengan spesifikasi.
“Kalau tidak sesuai RAB, dinas tidak akan menerima pekerjaan itu. Buktinya pekerjaan kami diterima dan uang sudah cair,” ujar pihak kontraktor saat dikonfirmasi. Terkait permukaan yang tidak rata, mereka hanya menjanjikan perbaikan di masa pemeliharaan tanpa menjelaskan mengapa kualitas awal begitu buruk.
Diterimanya proyek dengan kualitas “asal jadi” ini menjadi catatan hitam bagi pengawasan proyek di lingkungan Disdik Kota Bengkulu. Muncul pertanyaan besar: Apakah standar kelayakan fasilitas pendidikan di Kota Bengkulu memang serendah itu? Atau adakah pembiaran atas ketidakprofesionalan rekanan demi kelancaran pencairan anggaran?
Masyarakat mendesak agar Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dan BPK melakukan audit investigatif terhadap proyek ini. Jangan sampai masa pemeliharaan dijadikan tameng untuk menutupi kegagalan konstruksi sejak awal. Fasilitas sekolah adalah hak siswa, bukan sekadar objek pemenuhan volume anggaran.
Publisher -Red
Reporter CN -Riski
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










