KAMPAR, 21 April 2026- – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kampar tengah menjadi sorotan. Seorang siswa di SD Negeri 016 Desa Kusau Makmur, Kecamatan Tapung Hulu, dilaporkan menemukan organisme menyerupai belatung dalam menu nasi goreng yang dibagikan pada Sabtu (18/04/2026).
Menu tersebut diketahui dipasok oleh Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG) Desa Sumber Sari. Insiden ini memicu kekhawatiran orang tua siswa terkait standar kebersihan dan pengawasan kualitas pangan dalam program nasional tersebut.
Asisten Lapangan SPPG setempat, Fendriadi Chaniago (Ipen), membenarkan adanya laporan temuan tersebut saat dikonfirmasi media pada Minggu (19/04/2026). Namun, ia membantah bahwa organisme tersebut berasal dari proses pengolahan nasi.
“Kami sudah menurunkan ahli gizi ke sekolah untuk mengklarifikasi kejadian itu. Diduga belatung tersebut berasal dari buah salak yang menjadi pendamping menu, bukan dari nasi gorengnya,” ujar Ipen.
Ipen menegaskan bahwa pihaknya telah menjalankan prosedur kontrol kualitas (*Quality Control*) sesuai standar yang ditetapkan, meskipun laporan mengenai keberadaan belatung di wadah makanan siswa tetap terjadi.
Senada dengan Ipen, Al’Udri selaku Kepala Desa Kasikan sekaligus Mitra Pengelola MBG dari Yayasan Ulul Al-Bab, memberikan penjelasan serupa. Melalui pesan singkat, ia menjelaskan kemungkinan kontaminasi silang antara buah dan makanan utama.
“Perlu saya sampaikan bahwa belatung diduga berasal dari salak. Terkadang buah salak tampak bagus di luar namun busuk di dalam, sehingga belatungnya keluar dan masuk ke nasi goreng,” tulis Al’Udri.
Ia menambahkan bahwa kejadian ini telah diklarifikasi kepada beberapa pihak dan akan menjadi bahan evaluasi bagi manajemen ke depannya.
Meski pihak pengelola telah memberikan penjelasan, insiden ini dinilai publik sebagai indikasi lemahnya sistem pemilahan bahan pangan. Alasan kontaminasi dari buah pendamping dianggap tidak menggugurkan tanggung jawab pengelola dalam memastikan seluruh komponen makanan yang sampai ke tangan siswa dalam kondisi layak konsumsi.
Masyarakat kini mendesak Yayasan Ulul Al-Bab dan instansi terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja SPPG di wilayah tersebut. Hal ini dianggap krusial demi menjaga kepercayaan publik terhadap program MBG serta menjamin keselamatan kesehatan anak didik sebagai penerima manfaat.
Publisher -Red
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










