GRESIK, INDONESIA – 29 Maret 2026– Sebuah bukti arkeologis di Desa Leran, Gresik, Jawa Timur, mengungkap fakta sejarah yang melampaui batas zaman. Makam Fatimah binti Maimun, seorang bangsawan Muslim yang wafat pada tahun 1082 Masehi (475 Hijriah), menjadi saksi bisu bahwa interaksi kebudayaan dan persahabatan antara wilayah Persia (Iran) dan gugusan pulau di khatulistiwa ini telah berakar kuat jauh sebelum konsep “Nusantara” dikenal secara luas atau negara modern “Indonesia” terbentuk.
Temuan ini memberikan perspektif baru yang sangat signifikan dalam sejarah syiar Islam di tanah Jawa. Jika selama ini masyarakat umum mengenal era Walisongo pada abad ke-14 (sekitar tahun 1400-an Masehi) sebagai pilar utama penyebaran Islam, makam Fatimah binti Maimun membuktikan bahwa pengaruh peradaban Muslim, khususnya dari Persia, telah hadir dan diterima dengan terhormat di Jawa sejak akhir abad ke-11 (tahun 1082 Masehi), atau sekitar 300 tahun lebih awal dari masa kehidupan para Wali tersebut.
Ketepatan tanggal wafat yang terpahat pada nisan 7 Rajab 475 Hijriah (bertepatan dengan Desember 1082 Masehi) menempatkan keberadaan diaspora Persia di tanah Jawa pada era Kerajaan Janggala dan Kerajaan Panjalu (Kediri), di bawah kepemimpinan raja-raja besar seperti Sri Jitendrakara. Hal ini menunjukkan bahwa saat wilayah ini masih berada dalam puncak kejayaan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha pada abad ke-11, bangsa Persia sudah hadir membawa misi damai, perdagangan, dan nilai-nilai luhur.
Batu nisan tersebut memuat identitas jelas melalui kaligrafi gaya Kufi Timur, gaya tulisan yang sangat dominan di wilayah Persia dan Asia Tengah pada abad ke-11 Masehi (abad ke-5 Hijriah). Inskripsi suci yang terpahat berbunyi:
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Inilah kubur wanita yang berbahagia, yang mati syahid, Fatimah binti Maimun bin Hibatullah. Ia wafat pada hari Jumat, tujuh hari yang telah lewat dari bulan Rajab, pada tahun empat ratus tujuh puluh lima (475 Hijriah / 1082 Masehi).”
Pentingnya situs ini tidak hanya diakui oleh sejarawan domestik, tetapi juga telah menarik perhatian besar dari masyarakat internasional, khususnya Iran. Selama beberapa dekade terakhir, sejumlah delegasi kebudayaan, peneliti, hingga perwakilan diplomatik dari Republik Islam Iran telah mengunjungi makam ini untuk memastikan dan memberikan penghormatan atas jejak leluhur mereka yang telah sampai ke Jawa sejak hampir satu milenium lalu.
Dalam berbagai kunjungan tersebut, pihak Iran secara resmi menyatakan bahwa situs di Leran ini merupakan bukti tak terbantahkan bahwa hubungan emosional serta spiritual antara kedua bangsa telah terjalin sejak tahun 1082 Masehi, jauh sebelum batas-batas negara modern atau identitas Nusantara terbentuk secara baku. Identitas ayah beliau, Maimun bin Hibatullah, yang berasal dari tradisi penamaan elit Persia era Dinasti Seljuk, mempertegas bahwa hubungan ini bersifat struktural dan terhormat.
Berdasarkan tarikh wafatnya pada 475 Hijriah, dapat disimpulkan bahwa hubungan Indonesia-Iran bukan sekadar hubungan diplomatik modern pasca-kemerdekaan tahun 1945, melainkan hubungan peradaban yang sudah berusia hampir satu milenium. Saat istilah “Nusantara” belum menjadi identitas politik yang resmi, peradaban Persia telah memandang wilayah ini sebagai mitra strategis dalam jaringan perdagangan Jalur Sutra Laut sejak abad ke-11 Masehi. Keberadaan makam Fatimah binti Maimun membuktikan bahwa harmoni dua bangsa ini telah bertahan melintasi berbagai pergantian zaman.
نسخه فارسی – Persian Version
ردپای پارس در مجمعالجزایر: پیوند ایران و اندونزی، قرنها پیش از عصر والیسونو و شکلگیری دولتهای مدرن
گرسیک، اندونزی – 29 Maret 2026-یک سند باستانشناسی در روستای لران، گرسیک، حقیقتی تاریخی را آشکار میکند که فراتر از مرزهای زمان است. آرامگاه فاطمه بنت میمون که در سال ۱۰۸۲ میلادی (۴۷۵ هجری قمری) درگذشته است، گواهی بر این حقیقت است که تعاملات فرهنگی و دوستی میان سرزمین پارس (ایران) و این مجمعالجزایر، بسیار پیش از شکلگیری مفهوم “اندونزی” مدرن و حتی پیش از هویت سیاسی “نوسانتارا” آغاز شده بود.
نکته حائز اهمیت این است که در زمان وفات ایشان در قرن یازدهم میلادی، جاوه در دوران پادشاهیهای باستانی جانگالا و پانجالو (کدیری) به سر میبرد. این مزار ثابت میکند که نفوذ تمدن مسلمان، به ویژه از سوی پارس، حدود ۳۰۰ سال پیش از عصر والیسونو (که در قرن چهاردهم میلادی آغاز شد) در سواحل شمالی جاوه حضور داشته و مورد احترام بوده است.
کتیبه این سنگ مزار که با خط کوفی شرقی حکاکی شده، حامل نام فاطمه بنت میمون بن هبهالله است که در تاریخ ۷ رجب ۴۷۵ هجری قمری (۱۰۸۲ میلادی) درگذشته است. متن کتیبه چنین است: “به نام خداون بخشنده مهربان. هر که بر روی زمین است، فانی است… این مزار بانوی سعادتمند و شهید، فاطمه بنت میمون بن هبهالله است که در سال چهارصد و هفتاد و پنج هجری درگذشت.”
اهمیت این مکان توسط مقامات دیپلماتیک و پژوهشگران جمهوری اسلامی ایران که بارها از این سایت بازدید کردهاند، مورد تأکید قرار گرفته است. آنها رسماً اعلام کردهاند که این مزار سندی انکارناپذیر از دوستی هزار ساله دو ملت است که از سال ۱۰۸۲ میلادی پایهگذاری شده است؛ زمانی که ایران تحت حاکمیت دوران سلجوقیان بود و مجمعالجزایر اندونزی هنوز مرزهای سیاسی مدرن خود را نداشت. روابط ایران و اندونزی ریشهای تمدنی دارد که قدمت آن به نزدیک به ۱۰۰۰ سال
پیش باز میگردد.
Publisher -Red
الناشر – ريد
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










