PURWAKARTA – 5 April 2026– Sebuah rekaman video amatir yang memperlihatkan kericuhan di tengah pesta pernikahan kini viral dan memicu kemarahan netizen. Video tersebut merekam detik-detik mencekam di Kampung Cikumpay, Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, Sabtu (4/4), saat sebuah hajatan berubah menjadi rumah duka.
Dadang, sang tuan rumah yang seharusnya duduk bahagia merayakan pernikahan anaknya, justru dilaporkan meninggal dunia. Ia meregang nyawa secara tragis setelah menjadi sasaran amukan sekelompok pria yang diduga geram karena tidak dipenuhi ambisinya untuk “berpesta” miras di lokasi acara.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, tragedi berdarah ini dipicu oleh persoalan sepele namun fatal: uang jatah minuman keras (miras). Sekelompok pria yang disebut sebagai preman lokal mendatangi korban dan meminta sejumlah uang sebagai “upeti”.
Penolakan Dadang dibalas dengan keberingasan. Tanpa rasa kemanusiaan, para pelaku menganiaya korban secara brutal menggunakan benda keras di hadapan tamu undangan yang panik. Jeritan histeris pecah, dan istri korban, Juju, jatuh pingsan tak berdaya menyaksikan suaminya terkapar di tengah hiruk-pikuk pesta yang hancur berantakan.
Di tengah suasana duka dan keresahan publik, langkah sigap Polres Purwakarta patut mendapatkan apresiasi. Tak butuh waktu lama bagi korps baju cokelat untuk meredam potensi gejolak massa yang lebih luas. Respons cepat aparat dalam memburu dan meringkus terduga pelaku sesaat setelah kejadian memberikan sedikit napas lega bagi keluarga korban dan masyarakat yang dihantui rasa takut.
Kapolres Purwakarta AKBP I Dewa Putu Gede Anom Danujaya melalui Kasi Humas AKP Enjang Sukandi mengonfirmasi penangkapan tersebut. “Terduga pelaku sudah diamankan dan saat ini sedang menjalani pemeriksaan intensif. Kami berkomitmen mengusut tuntas motif dan kronologi kejadian ini,” tegas AKP Enjang. Kecepatan ini membuktikan bahwa negara hadir dan tidak membiarkan aksi barbarisme menguasai wilayah.
Meski tindakan cepat polisi layak diacungi jempol, Redaksi memberikan catatan kritis: Penangkapan adalah hilir, namun premanisme adalah hulunya. Kematian Dadang harus menjadi momentum bagi kepolisian untuk melakukan pembersihan besar-besaran terhadap praktik pungli dan “jatah miras” yang kerap menghantui hajatan warga di pelosok desa.
Masyarakat menanti keberanian penegak hukum untuk memberikan hukuman maksimal. Jangan sampai kasus ini menguap setelah hiruk-pikuk media sosial mereda. Hukum harus menunjukkan taringnya agar tidak ada lagi nyawa warga sipil yang melayang hanya karena mempertahankan harga diri dari intimidasi botol miras dan kayu balok.
Publisher -Red
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










