KEBUMEN, CN -30 Mei 2026- Eksploitasi sumber daya air untuk kepentingan industri di wilayah Kecamatan Rowokele kian meresahkan warga. Hari ini, PT ABS kedapatan melakukan pengambilan air secara langsung dari Saluran Irigasi Kedung Keji, Desa Jatiluhur, Kabupaten Kebumen, dengan menggunakan mesin penyedot air berkapasitas besar.
Langkah sepihak ini memicu keluhan dan protes keras dari masyarakat petani setempat yang menggantungkan nasib lahan pertanian mereka pada aliran air tersebut. Penggunaan mesin sedot di saluran irigasi ini dinilai sebagai tindakan yang mencederai hak-hak publik, khususnya para petani di Desa kretek
Saluran Irigasi Kedung Keji dirancang secara teknis hanya untuk mendistribusikan air ke petak-petak sawah warga, bukan untuk menyuplai kebutuhan industri skala besar seperti operasional batching plant atau produksi beton siap pakai.
Masuknya alat penyedot air milik korporasi ke jalur irigasi desa ini memperparah kekhawatiran warga akan ancaman kekeringan buatan. Petani mengeluhkan bahwa penyedotan air secara mekanis dalam volume tinggi akan menguras debit air secara drastis, sehingga pasokan air ke sawah-sawah di bagian hilir terancam terhenti total.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, tingginya intensitas pengambilan air ini diduga dipicu oleh banyaknya proyek konstruksi yang sedang berjalan, sehingga pihak perusahaan memaksimalkan pengambilan air di sekitar fasilitas pengairan tersebut. Ironisnya, proyek infrastruktur pengairan yang baru selesai dibangun di kawasan itu justru dinilai belum dirasakan manfaatnya secara optimal oleh warga setempat.
Menurut Ahmad, bukan nama sebenarnya, seorang tokoh masyarakat yang juga pernah terlibat langsung dalam pembangunan infrastruktur pengairan di wilayah tersebut, Saluran Irigasi Kedung Keji di Jatiluhur merupakan urat nadi pertanian warga sejak lama. Ia menambahkan bahwa tingginya intensitas proyek saat ini membuat pengambilan air oleh perusahaan menjadi sangat maksimal, padahal di sisi lain pasokan air untuk sawah warga saat ini sedang sangat minim.
Di tengah kegelisahan warga, mencuat kabar di kalangan masyarakat bahwa PT ABS diduga kuat memiliki keterikatan kepemilikan dengan salah satu figur penguasa di Kabupaten Kebumen. Kondisi ini memicu skeptisisme publik mengenai efektivitas penegakan aturan di daerah tersebut.
Banyak pihak kini mempertanyakan ketegasan dan keberanian instansi sektoral dalam menyikapi persoalan ini. Relasi kuasa yang membayangi korporasi tersebut dikhawatirkan akan membuat fungsi pengawasan menjadi tumpul dan mengorbankan kepentingan para petani kecil.
Secara regulasi, prioritas pemanfaatan air pada jaringan irigasi yang dibangun oleh negara seharusnya mendahulukan pertanian rakyat demi menjaga ketahanan pangan daerah. Tindakan mendahulukan kepentingan komersial di atas kebutuhan dasar masyarakat petani ini memicu pertanyaan besar terkait fungsi kontrol dari pemangku kebijakan di Kabupaten Kebumen, apakah mereka berani bertindak adil tanpa pandang bulu.
Demi menjaga keberimbangan informasi sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik, redaksi saat ini sedang melayangkan permohonan konfirmasi resmi kepada pihak manajemen PT ABS terkait legalitas, perizinan penggunaan alat penyedot air, serta isu kepemilikan tersebut.
Redaksi juga membuka ruang komunikasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang serta komisi terkait di DPRD Kabupaten Kebumen agar segera melakukan inspeksi mendadak ke lokasi.
Langkah konkret dari dinas terkait sangat dinantikan publik sebagai pembuktian bahwa hukum dan keadilan bagi masyarakat kecil tidak kalah oleh pengaruh kekuasaan.
Publisher -Red
Reporter CN -Waluyo
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










