BANGGAI KEPULAUAN, SALAKAN, CN 21 Agustus 2026 Berdasarkan video yang beredar luas di media sosial Facebook melalui akun Vina Teene, program prioritas nasional Makan Bergizi Gratis kembali disorot tajam setelah memakan korban di daerah. Sebanyak 51 orang yang sebagian besar merupakan anak-anak sekolah dasar di Kecamatan Totikum Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tengah, harus dilarikan secara darurat ke fasilitas kesehatan akibat diduga mengalami keracunan makanan usai menyantap menu program tersebut pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Berdasarkan data yang dihimpun redaksi hingga Jumat, 21 Agustus 2026, dari total 51 korban yang mengalami gangguan kesehatan serius dan membutuhkan penanganan medis segera, 47 orang di antaranya merupakan siswa SDN Mata. Korban lainnya tercatat berasal dari SD Negeri Kanali sebanyak satu siswa, SD Muhammadiyah Peling sebanyak satu siswa, serta seorang ibu menyusui dan seorang balita.
Rekaman video amatir yang diunggah oleh akun Facebook Vina Teene tersebut memperlihatkan suasana memilukan di mana sejumlah siswa menunjukkan gejala lemas hingga muntah-muntah di dalam ruang kelas. Tampak para guru dan warga berupaya memberikan pertolongan darurat sebelum para korban dilarikan ke Puskesmas Totikum dan RSUD Trikora, Salakan.
Berdasarkan fakta visual dari video yang beredar tersebut, kasus tumbangnya puluhan anak bangsa di bumi Sulawesi Tengah ini memicu gelombang kritik pedas dari berbagai kalangan masyarakat. Program Makan Bergizi Gratis yang digadang-gadang sebagai instrumen strategis untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa dan memperbaiki gizi anak, justru berubah menjadi ancaman nyata di ruang-ruang kelas.
Insiden berulang ini menelanjangi rapuhnya sistem pengawasan kualitas dan higienitas pangan dari pihak penyedia atau vendor katering yang ditunjuk di daerah. Publik mempertanyakan efektivitas standar operasional prosedur keamanan pangan yang diterapkan karena menyangkut keselamatan nyawa manusia.
Bagaimana mungkin makanan yang dibiayai negara untuk menyehatkan anak-anak justru membuat mereka terbaring di rumah sakit? Pemerintah daerah di Sulawesi Tengah dan pihak terkait tidak boleh sekadar meminta maaf atau memberi santunan semata, tetapi harus melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh vendor katering yang bermain dalam proyek ini. Nyawa anak-anak tidak boleh dijadikan bahan uji coba kelayakan dapur amatiran.
Hingga berita ini diturunkan pada Jumat, 21 Agustus 2026, pihak berwenang, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah bersama instansi terkait di Kabupaten Banggai Kepulauan didesak untuk bergerak cepat mengambil sampel sisa makanan, melakukan uji laboratorium forensik, dan mengusut tuntas pihak penyedia katering yang bertanggung jawab di balik insiden ini.
Jika terbukti ada unsur kelalaian fatal atau pembiaran standar higienitas demi meraup keuntungan sepihak, penegak hukum diminta untuk tidak ragu menyeret pihak vendor maupun oknum pengawas ke meja hijau. Publik menuntut transparansi penuh agar tragedi keracunan massal yang merenggut kesehatan anak-anak sekolah ini tidak berulang kembali di kemudian hari.
Publisher -Red
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










