LAMPUNG UTARA, CN 21 Agustus 2026 – Kondisi memprihatinkan di kompleks makam leluhur (Puyang) Abung di Kabupaten Lampung Utara memicu sorotan tajam dari berbagai kalangan. Sejumlah situs bersejarah, mulai dari Makam Minak Triodiso, Minak Semelasem, Minak Peduko, Minak Berajo Sunan, hingga Minak Seghayo Tuan, dilaporkan minim fasilitas dasar, gelap gulita pada malam hari, dan belum tersentuh perhatian optimal dari pemerintah daerah.
Kritik ini disuarakan oleh Aiptu Husni Tamrin, seorang aparat kepolisian yang menjabat sebagai Kasubsektor Abung Kunang, Polsek Abung Selatan. Selain berprofesi sebagai penegak hukum, dalam tatanan adat Lampung ia merupakan tokoh adat yang menyandang gelar kehormatan Pangeran Adipati, Jumat (21/8).
Melalui pernyataan yang disebarluaskan melalui media sosial dan mendapat perhatian luas masyarakat, Pangeran Adipati Aiptu Husni Tamrin menyoroti belum adanya fasilitas penerangan, ketersediaan air bersih seperti sumur bor untuk berwudhu, serta fasilitas pendopo peristirahatan bagi peziarah di kompleks makam cagar budaya tersebut.
Kendala infrastruktur juga menjadi sorotan utama, di mana akses jalan menuju lokasi makam masih berupa tanah merah yang kerap berlumpur dan licin saat musim hujan. Selain itu, minimnya rambu atau plang penunjuk arah resmi dari dinas terkait dinilai menyulitkan masyarakat maupun wisatawan sejarah yang ingin berkunjung.
Dalam gugatan moralnya kepada para pemangku kebijakan, ia mengingatkan pentingnya menghargai jasa para leluhur yang telah membangun wilayah tersebut.
“Wahai para pemegang kebijakan dan anggaran, sejatinya pembangunan hari ini tidak akan terwujud tanpa perjuangan para puyang terdahulu yang membuka wilayah hingga menjadi pusat permukiman padat penduduk seperti sekarang,” ujar Aiptu Husni Tamrin.
Ia juga menepis berbagai kekhawatiran atau mitos keliru yang kerap dijadikan alasan lambatnya renovasi situs-situs bersejarah. Menurutnya, jika terdapat kekhawatiran teknis di masyarakat, pengerjaannya dapat diserahkan kepada pihak yang kompeten dengan tetap menjunjung tinggi nilai adat dan tanggung jawab bersama.
Sebagai solusi, ia menilai perbaikan infrastruktur situs sejarah ini semestinya dapat diwujudkan melalui political will (komitmen politik) pemerintah daerah. Sinergi pendanaan dinilai bisa ditempuh melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dukungan dana pusat, maupun optimalisasi program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) dari korporasi yang beroperasi di Lampung Utara.
Melalui seruan bertajuk “Salam Revolusi Kehidupan”, Pangeran Adipati Aiptu Husni Tamrin berharap pihak-pihak terkait, khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta Dinas PUPR Kabupaten Lampung Utara, segera mengambil langkah nyata untuk merawat, melestarikan, dan memajukan potensi wisata sejarah lokal sebelum mengalami kerusakan lebih lanjut.
Kontributor CN -Andre
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










