KEBUMEN, CN – Penggunaan armada bus mikro atau engkel untuk mengangkut kontingen atlet pelajar Kabupaten Kebumen yang berlaga pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jawa Tengah 2026 di Semarang menuai kritik tajam dari elemen masyarakat.
Tokoh pemuda asal Gombong, Kebumen, Gatot Teguh Pri Handoko, menilai kebijakan pengangkutan atlet pelajar menggunakan kendaraan yang kurang memadai untuk perjalanan jarak jauh mencerminkan lemahnya perencanaan serta minimnya perhatian terhadap kenyamanan dan kondisi fisik para atlet.
Gatot menyuarakan keprihatinannya atas fasilitas transportasi maupun penunjang lain yang diberikan kepada para pelajar perwakilan Kebumen tersebut.
Menurutnya, ajang Popda merupakan agenda resmi tingkat provinsi yang membawa nama baik daerah, sehingga sarana pendukung seperti transportasi hingga pemenuhan gizi atlet harus diprioritaskan.
“Pilihan fasilitas transportasi ini sangat disayangkan. Atlet pelajar mengemban misi membawa nama harum Kebumen, namun dukungan sarana di lapangan terkesan ala kadarnya,” ujar Gatot Teguh Pri Handoko saat memberikan keterangan, Jumat (4/9/2026).Selain masalah armada pengangkut, Gatot juga menyoroti pentingnya asupan gizi yang memadai bagi para atlet selama bertanding.
Menurutnya, performa maksimal di lapangan tidak hanya ditunjang oleh fisik yang fit dari perjalanan yang nyaman, tetapi juga asupan gizi yang seimbang.
“Atlet bertanding membawa nama baik Kebumen, jadi mereka harus mendapatkan asupan gizi yang cukup dan layak agar bisa tampil maksimal. Jangan sampai kebutuhan mendasar seperti ini malah diabaikan,” tambah Gatot.
Lebih lanjut, Gatot menegaskan perlunya pertanggungjawaban moral dan administratif dari para pemangku kebijakan yang membidangi urusan olahraga dan pendidikan di Kabupaten Kebumen.
Ia menilai pejabat terkait yang bertanggung jawab atas pengelolaan kontingen Popda harus mengambil sikap tegas.
“Pihak-pihak yang mengurusi Popda, termasuk pimpinan Disdikpora maupun instansi terkait seperti KONI Kebumen, harus bertanggung jawab secara terbuka atas kondisi ini. Jika tidak mampu memberikan pelayanan sarana dan penunjang yang layak bagi atlet, sepatutnya mundur atau dicopot dari jabatannya sebagai bentuk evaluasi total,” tegasnya.
Gatot berharap kejadian ini menjadi momentum perbaikan tata kelola anggaran serta pelaksanaan kegiatan olahraga di Kabupaten Kebumen agar tidak merugikan potensi para atlet muda di masa mendatang.
Sementara itu, pihak Disdikpora Kabupaten Kebumen sebelumnya menjelaskan bahwa pemilihan kendaraan mikrobus dilakukan dengan mempertimbangkan efisiensi mobilitas para atlet saat mengarungi berbagai lokasi pertandingan di Semarang dan sekitarnya.
Kendati demikian, sorotan publik terkait aspek kenyamanan perjalanan antar-kota hingga pemenuhan fasilitas atlet terus bergulir di masyarakat.
Reporter CN -Waluyo
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










