JAKARTA – 9 September 2026 – Hubungan yang terjalin dengan baik, baik dalam lingkup personal maupun profesional, sering kali tidak runtuh karena kesalahan besar yang dramatis. Sebaliknya, retaknya sebuah relasi justru bermula dari akumulasi pengabaian hal-hal sepele yang berkaitan erat dengan adab dan kecepatan respons.
Hal tersebut disampaikan oleh Nanik Indrayati, S. Sn., M. Pd., pimpinan Sanggar Tari Langen Beksa sekaligus budayawan dan seniman asal Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Menurutnya, berbagai kebiasaan kecil kerap dianggap sepele namun berdampak fatal, di antaranya tidak adanya koordinasi, lambatnya merespons, mengabaikan panggilan telepon atau pesan singkat, menggunakan ruang komunikasi privat yang tidak transparan, merasa selalu benar, hingga enggan mengucapkan kata-kata dasar seperti maaf, tolong, dan terima kasih.
Di balik perilaku tersebut, Nanik menilai bahwa akar masalahnya sering kali bersumber dari sikap mental yang keliru: merasa lebih tinggi, merasa lebih hebat, merasa lebih pintar, dan merasa tidak lagi membutuhkan orang lain. Ego yang terlalu besar ini membuat seseorang kehilangan kerendahan hati untuk sekadar menghargai waktu, tenaga, dan kehadiran pihak lain.
Ketika mentalitas superioritas ini mengakar, perilakunya menjelma menjadi arogansi yang dampaknya langsung dirasakan secara nyata. Dalam kelangsungan bisnis dan kemitraan, kemitraan strategis hancur perlahan karena klien dan rekan kerja memilih mundur akibat lelah menghadapi sikap yang tidak kooperatif, abai, dan defensif. Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan sosial merenggang karena orang-orang di sekitar mulai enggan mendekat, berinteraksi, atau memberikan dukungan karena merasa tidak dihargai sebagai manusia. Sementara dalam reputasi dan kepercayaan, kepercayaan publik runtuh seketika sehingga pelaku kehilangan akses terhadap jaringan yang luas, sebab kolaborasi yang sehat mensyaratkan kesetaraan dan rasa saling menghormati, bukan dominasi sepihak.
Kerugian terbesar dari perilaku meremehkan adab ini pada akhirnya harus ditanggung oleh pelakunya sendiri. Kepercayaan adalah aset paling berharga yang sangat sulit dipulihkan ketika sudah rusak. Pada akhirnya, mereka yang merasa paling hebat dan tidak membutuhkan siapa pun justru sedang mengisolasi diri mereka sendiri, membuktikan bahwa kesombongan dan pengabaian adab adalah bentuk kerugian paling nyata dalam hidup bermasyarakat dan berbisnis.
Disusun oleh: Kusmiadi, C.BJ., C.EJ., C.In. (Jhon)
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










