SURABAYA, CN 7 September 2036 – Pengasuh Pondok Pesantren Nur Muhammad Surabaya, KH Mas Muhammad Maftuh, angkat bicara sekaligus memberikan tanggapan komprehensif terkait polemik yang mengiringi peluncuran buku berjudul Islam Ala Prabowo: Cara Presiden Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. Buku tersebut sebelumnya diluncurkan bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
Gus Maftuh, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Kyai Kampung Indonesia (FK3I), mengimbau masyarakat agar membaca dan memahami isi buku tersebut secara utuh serta proporsional. Menurutnya, frasa “Islam Ala Prabowo” tidak dimaksudkan untuk membentuk mazhab, aliran, ataupun pemahaman agama baru yang berbeda dari akidah Islam yang dianut oleh mayoritas umat Muslim di Indonesia.
“Jangan memahami buku ini hanya dari tiga kata, ‘Islam Ala Prabowo’, kemudian langsung menyimpulkan seolah-olah ada Islam baru atau mazhab baru. Maksudnya adalah bagaimana nilai-nilai Islam dipahami dan tercermin dalam kehidupan, sikap, serta kepemimpinan Prabowo,” ujar Gus Maftuh dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/9).
Ia menjelaskan bahwa buku tersebut mengupas dimensi keislaman Presiden Prabowo Subianto dari berbagai aspek, mulai dari kehidupan pribadi, perjalanan karier, hingga kepemimpinannya sebagai kepala negara. Selain itu, buku ini turut menghimpun pandangan serta tulisan dari beragam kalangan, mulai dari tokoh agama, ulama, akademisi, hingga politisi dan tokoh nasional.
“Ini buku yang mencoba melihat sisi keislaman seorang pemimpin. Jadi yang dibicarakan bukan Islam sebagai agama yang baru, tetapi bagaimana nilai Islam seperti perdamaian, keadilan, persatuan, kepedulian kepada rakyat, dan kemanusiaan dapat diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” jelasnya.
Lebih lanjut, Gus Maftuh menegaskan bahwa esensi dari Islam di Indonesia adalah menghadirkan kekuatan moral yang mendorong kemajuan, kedamaian, kerukunan, dan persatuan, bukan menjadi sumber perpecahan. Ia mengingatkan agar masyarakat bersikap kritis, tidak mudah terprovokasi oleh potongan informasi, meme, maupun komentar di media sosial yang hanya mengambil judul buku tanpa memahami substansinya.
“Islam yang kita inginkan adalah Islam yang membuat Indonesia maju, Islam yang rukun, Islam yang menjaga persatuan dan mampu hidup berdampingan dengan rukun, damai dan memegang erat konsesi kebangsaan bersama dengan umat-umat beragama lainnya. Itulah wajah Islam Indonesia yang rahmatan lil alamin,” tegasnya.
Ia juga berpesan agar perbedaan pandangan di ruang publik disikapi secara dewasa tanpa bergeser menjadi fitnah atau saling menghujat.
“Kalau ada yang berbeda pandangan, silakan. Buku adalah ruang intelektual untuk berdiskusi. Tetapi jangan sampai perbedaan tafsir kemudian berubah menjadi fitnah dan saling menghujat. Mari baca bukunya, pahami isinya, baru memberikan penilaian,” kata Gus Maftuh.
Pelibatan sejumlah tokoh nasional dalam penyusunan buku ini, menurut Gus Maftuh, menunjukkan bahwa diskursus mengenai dimensi keislaman Presiden Prabowo Subianto dikaji dari berbagai perspektif yang luas. Sejumlah nama terkemuka yang tercantum dalam rangkaian penyusunan dan kontribusi buku tersebut antara lain Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, Prof. Dr. Abdul Muโti, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Prof. Dr. KH. Noor Ahmad, KH. Anwar Iskandar, hingga Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar.
Gus Maftuh menekankan pentingnya aktualisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan bernegara agar tidak berhenti pada simbol semata.
“Kalau agama hanya berhenti pada simbol, kita kehilangan substansinya. Islam harus menghadirkan akhlak, keadilan, kepedulian kepada rakyat, persaudaraan, dan perdamaian. Kalau nilai-nilai itu bisa diwujudkan dalam kepemimpinan, tentu itu sesuatu yang harus kita apresiasi,” ujarnya.
Menutup keterangannya, Gus Maftuh berharap kehadiran buku tersebut tidak dijadikan sebagai alat untuk mempertajam polarisasi politik maupun sentimen keagamaan di tengah masyarakat. Sebaliknya, buku ini diharapkan menjadi ruang dialog yang sehat untuk melihat bagaimana nilai keislaman dapat berjalan selaras dengan nasionalisme, demokrasi, kebinekaan, dan cita-cita kemajuan bangsa.
“Jangan jadikan Islam sebagai alasan untuk saling bermusuhan. Justru Islam mengajarkan kita untuk menjaga persaudaraan, perdamaian, menghormati sesama, dan membangun kemaslahatan. Indonesia ini rumah bersama. Umat Islam harus menjadi bagian penting dalam menjaga agar Indonesia tetap maju, rukun, damai, dan bersatu,” pungkas Gus Maftuh.
Publisher -Red
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










