GOMBONG, KEBUMEN – Proyek ambisius Peternakan Terpadu BUMDesma Manggala Praja Gombong di Desa Kemukus kini menyajikan pemandangan ironis yang mengundang tanya. Fasilitas yang seharusnya menjadi simbol kedaulatan ekonomi bagi 12 desa di Kecamatan Gombong tersebut, kini tampak layaknya “monumen mati” yang terbengkalai.
Berdasarkan pantauan di lokasi, aset senilai miliaran rupiah itu kini hanya menyisakan kandang kosong tanpa satu pun ternak. Peralatan pendukung mulai digerogoti karat, sementara satu unit kendaraan operasional dibiarkan mangkrak terkepung semak belukar. Kondisi ini kontras dengan total anggaran publik yang diperkirakan menyerap dana hingga Rp2,3 Miliar.
Ketua Paguyuban Kepala Desa Kecamatan Gombong, Sutoyo, mengungkap rincian modal yang masuk ke kas BUMDesma. Diketahui, terdapat penyertaan modal dari 12 desa dengan dua tahap (Rp100 juta dan Rp50 juta per desa).
“Seingat saya, sekitar Rp700 juta dialokasikan untuk fisik kandang, pengadaan alat, hingga rumput odot,” ujar Sutoyo.
Persoalan meruncing pada pengadaan 31 ekor sapi yang didanai bantuan spesifik sebesar Rp500 juta. Hingga saat ini, keberadaan puluhan sapi tersebut menjadi misteri. Informasi yang terhimpun menyebutkan hanya satu ekor sapi yang laku terjual ke jagal seharga Rp3,5 juta dengan alasan sakit. Nasib 30 ekor lainnya? Masih gelap.
Upaya media untuk mendapatkan klarifikasi dari pihak pengelola BUMDesma menemui jalan buntu. Saat disambangi ke kantor operasional, Direktur Utama dikabarkan sedang sakit dan tidak dapat dihubungi.
Sikap tertutup ini memicu kritik tajam mengenai tanggung jawab moral pengelola dana umat. Apalagi, hingga Maret 2026, Musyawarah Antar Desa (MAD) untuk laporan tahun buku 2025 belum juga digelar. Padahal, pada akhir 2024, disinyalir masih terdapat sisa dana kas sekitar Rp400 juta.
Belum adanya Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) yang transparan memicu spekulasi liar di masyarakat terkait adanya dugaan praktik maladminstrasi atau penyimpangan dana. Publik kini mempertanyakan: Apakah alasan “sakit” pimpinan merupakan kendala medis nyata, atau sekadar tameng untuk menghindari audit?
Sebagai badan usaha milik bersama, setiap rupiah yang dikelola adalah amanat rakyat. Jika tata kelola ini terus dibiarkan tanpa audit independen dari Inspektorat, maka kredibilitas 12 desa di Kecamatan Gombong menjadi taruhannya. Dana desa seharusnya menjadi instrumen kesejahteraan, bukan menguap tanpa sisa di balik tembok kandang yang kosong.
Publisher -Red
Reporter CN -Waluyo
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










