PEKANBARU, 14 April 2026- – Dinas Pendidikan Provinsi Riau mengeluarkan peringatan keras terhadap tren perpisahan sekolah yang kerap digelar secara mewah di hotel-hotel berbintang. Kepala Dinas Pendidikan Riau, Erisman Yahya, menegaskan bahwa seremoni kelulusan seharusnya kembali ke esensi pendidikan: kesederhanaan, bukan ajang pamer kemewahan yang memberatkan ekonomi wali murid.
Pernyataan menukik ini disampaikan Erisman usai menghadiri pelepasan siswa kelas XII SMA Plus, Senin (13/4/2026). Ia menyoroti fenomena perpisahan luar sekolah yang kini mulai kehilangan kontrol dan justru menjadi beban finansial baru bagi masyarakat.
“Kami sudah menyampaikan arahan tegas kepada seluruh satuan pendidikan. Tidak perlu ada kegiatan berlebihan yang tidak sesuai dengan kondisi ekonomi saat ini. Perpisahan itu soal makna, bukan soal megahnya gedung hotel,” tegas Erisman.
Erisman mengingatkan pihak sekolah agar tidak melegitimasi pungutan wajib dengan dalih kesepakatan komite untuk acara perpisahan. Ia menginstruksikan agar setiap sekolah memaksimalkan fasilitas yang ada di lingkungan pendidikan masing-masing.
“Silakan gelar perpisahan, tapi cukup di sekolah. Syarat utamanya: sederhana, tidak memberatkan orang tua, dan mutlak tanpa pungutan yang bersifat wajib. Kita butuh efisiensi, bukan sensasi,” tambahnya dengan nada bicara yang lugas.
Selain menyoroti gaya hidup sekolah, Erisman juga membongkar fakta mengenai kisruh Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB/SPMB) yang saban tahun terjadi. Ia menyebut bahwa secara data, daya tampung sekolah negeri di Riau sebenarnya sangat mencukupi, bahkan cenderung melimpah.
Ia memaparkan adanya sisa ruang sekitar 12% yang seharusnya bisa diakomodasi oleh sekolah swasta jika distribusi siswa merata. Namun, ia menyentil persepsi masyarakat yang masih terjebak pada fanatisme terhadap sekolah tertentu.
“Masalah menahun kita bukan kurang kursi, tapi soal persepsi. Semua menumpuk ingin masuk ke sekolah yang sama (favorit), padahal secara makro daya tampung kita lebih dari cukup,” jelasnya.
Menutup keterangannya, Erisman meminta masyarakat dan pihak sekolah untuk bekerja sama menciptakan iklim pendidikan yang sehat. Ia menekankan bahwa kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh lokasi pesta perpisahan atau label ‘favorit’ sebuah sekolah, melainkan keberlanjutan proses belajar siswa.
Publisher -Red
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










