ACEH SINGKIL, CN — Kamis, 24 September 2026 – Keberangkatan enam atlet seni beladiri Moccak Pakpak asal Kabupaten Aceh Singkil ke ajang kejuaraan internasional di Malaysia menyisakan ironi di tengah euforia publik. Di balik semangat membawa nama daerah ke panggung dunia, para atlet justru harus bergantung pada pembiayaan mandiri melalui patungan orang tua dan swadaya masyarakat.
Kondisi tersebut menuai kritik pedas dari Pemerhati Daerah Aceh Singkil, Budi Harjo. Ia menilai fenomena ini menjadi catatan serius terkait komitmen pembinaan olahraga oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh Singkil.
“Ini bukan semata-mata soal berapa rupiah biaya keberangkatannya, melainkan soal keberpihakan dan perhatian kita terhadap anak-anak muda yang membawa nama Aceh Singkil ke panggung internasional,” tegas Budi Harjo kepada awak media.
Budi mempertanyakan akuntabilitas serta transparansi skema pembinaan cabor oleh induk organisasi olahraga daerah tersebut. Menurutnya, jika untuk kompetisi tingkat internasional saja atlet dan keluarga harus merogoh kocek pribadi, maka publik berhak mempertanyakan kehadiran pimpinan dan pengurus organisasi terkait.
“Jika orang tua harus patungan agar anak-anak bisa bertanding di Malaysia, tentu publik berhak bertanya: di mana kehadiran dan bentuk dukungan KONI yang sebenarnya?” tuturnya.
Lebih lanjut, Budi menyentil kebiasaan sebagian oknum pemangku kepentingan yang dinilainya acap kali hanya hadir saat atlet telah sukses meraih prestasi, namun abai dalam proses awal perjuangan.
“Jangan sampai ketika atlet menang dan membawa pulang medali, semua pihak berebut mengklaim dan ikut bangga. Sementara saat mereka kesulitan dana keberangkatan, orang tua dibiarkan berjuang sendiri,” ujar Budi.
Ia menegaskan, apresiasi terhadap atlet seyogianya terintegrasi sejak masa pembinaan, pelatihan, seleksi, hingga keberangkatan. Meski mengapresiasi tingginya rasa gotong royong masyarakat serta pengorbanan para orang tua dan pelatih, Budi memperingatkan agar keswadayaan warga tidak dijadikan komoditas pembiaran oleh instansi berwenang.
Guna mencegah spekulasi liar di tengah masyarakat, Budi mendesak jajaran pengurus KONI Aceh Singkil memberikan penjelasan secara terbuka mengenai mekanisme penetapan anggaran dan skala prioritas alokasi bantuan cabor.
“KONI harus menjelaskan secara terbuka duduk persoalannya kepada publik. Buka bagaimana skema dukungannya, agar tidak timbul keprihatinan yang berlarut-larut,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak KONI Aceh Singkil belum memberikan keterangan resmi terkait bentuk dukungan maupun skema alokasi anggaran bagi para atlet Moccak Pakpak yang akan berangkat ke Malaysia tersebut.
Reporter: CN Mustafa, C.BJ., C.EJ.
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










