MAGELANG, CN- 21 Juni 2026- – Memasuki bulan Muharram, momentum hijrah sering menjadi waktu bagi umat Islam untuk merefleksikan diri dengan meneladani kehidupan para ulama besar. Salah satu sosok yang menjadi rujukan utama dalam sanad keilmuan pesantren Nusantara adalah KH. Nahrowi Dalhar atau yang masyhur dikenal sebagai Mbah Dalhar Watucongol, Muntilan, Magelang.
Selain dikenal sebagai “guru para kiai”, kehidupan Mbah Dalhar adalah cerminan dari akar keturunan pejuang yang kokoh, yang memadukan napas spiritualitas dengan pengabdian bagi bangsa.
Lahir di Watucongol pada 12 Januari 1870, Mbah Dalhar merupakan putra dari pasangan KH. Abdurrahman dan Nyai Siti Halimah. Darah kepemimpinan dan keberanian mengalir kuat dalam nadinya. Kakek beliau, Kiai Abdurrauf, tercatat dalam sejarah sebagai salah satu panglima perang kepercayaan Pangeran Diponegoro yang memimpin perlawanan terhadap kolonial Belanda di wilayah Magelang.
Warisan keteguhan sikap dalam membela kebenaran inilah yang terus dipupuk oleh Mbah Dalhar sepanjang hidupnya. Nama “Nahrowi” adalah pemberian orang tuanya, sedangkan nama “Dalhar” disematkan oleh gurunya di Tanah Suci, Syekh As-Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani, sebagai tanda kedekatan dan kematangan ilmu.
Semangat Muharram yang identik dengan spirit hijrah terlihat jelas dalam riwayat pendidikan beliau. Mbah Dalhar tidak hanya belajar di pesantren ayahnya, tetapi juga melakukan perjalanan menuntut ilmu (*rihlah ilmiyah*) kepada tokoh-tokoh besar zamannya, seperti Kiai Mad Ushul di Salaman dan Syekh Abdul Kahfi Ats-Tsani di Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Kebumen.
Puncak perjalanan hijrah beliau adalah menetap selama kurang lebih 25 tahun di Makkah untuk mendalami tasawuf dan tarekat. Di sana, beliau menerima ijazah kemursyidan Tarekat Syadziliyah yang kemudian menjadi pijakan spiritual utama dalam mengasuh ribuan santri di Pondok Pesantren Darussalam Watucongol sekembalinya ke tanah air.
Sebagai sosok ulama yang menyambungkan sanad keilmuan dari Makkah ke tanah Jawa, Mbah Dalhar menjadi muara bagi banyak ulama besar Indonesia. Para murid yang pernah menimba ilmu di bawah asuhan beliau mencakup nama-nama besar, di antaranya KH. Mahrus Ali (Lirboyo), KH. Ma’shum Ahmad (Lasem), Abuya Dimyati (Banten), hingga Gus Miek.
Di bulan Muharram ini, mengenang sosok Mbah Dalhar bukan sekadar membicarakan sejarah karomah atau kebesaran namanya. Namun, ini adalah tentang meneladani konsistensi ibadah, kezuhudan, dan pengabdian beliau bagi kemerdekaan bangsa terbukti melalui dukungan doa dan ijazah amalan beliau kepada para pejuang di masa revolusi fisik.
Bagi masyarakat yang berziarah ke makam beliau di Gunungpring, Magelang, sosok Mbah Dalhar adalah pengingat bahwa di balik gelar ulama besar, terdapat perjalanan panjang keteguhan hati dalam menjaga tradisi keilmuan yang lurus. Di tengah momentum tahun baru Hijriah ini, keteladanan Mbah Dalhar diharapkan menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk terus melakukan “hijrah” menuju pribadi yang lebih bertakwa dan bermanfaat bagi sesama.
Redaksi Cyber Nasional
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










