LAHAT, SUMATERA SELATAN, CN – 6 Juni 2026 – Ikatan persaudaraan sejati tidak akan pernah putus meski terpisah jarak dan waktu. Setelah belasan tahun menjalani kehidupan di tempat yang berbeda, sepuluh bersaudara yang masih ada keturunan dari pasangan (Alm.) Zaini dan (Alm.) Malia, warga Desa Lubuk Layang Ilir, Kecamatan Kikim Timur, Kabupaten Lahat akhirnya berhasil menuntaskan rindu dalam sebuah pertemuan yang teramat langka di kampung halaman.
Pertemuan yang berlangsung pada Selasa, 2-4 Juni 2026 ini bukan sekadar ajang temu kangen biasa. Mengingat kesibukan masing-masing yang sangat padat, apalagi bagi mereka yang menetap dan berjuang di hiruk-pikuk Ibu Kota, meluangkan waktu untuk pulang bukanlah perkara mudah. Namun, di tahun 2026 ini, suasana menjadi begitu berbeda dan istimewa.
Momen haru ini diikuti oleh sembilan bersaudara: Tanhar, Nurul, Jamilah, Bujang Abdullah, Sapuan, Junaidi, Samsul Kopli, Susmayanti, Muslimin, dan si bungsu Sopian Kurnain. Meskipun kakak sulung mereka, (Alm.) Rumi, telah berpulang ke hadapan Sang Pencipta, kehadiran sang istri yang hadir mewakili almarhum membuat formasi kekeluargaan tetap terasa utuh dan hangat dalam kenangan.
Kebahagiaan pada hari itu tidak hanya dirasakan oleh saudara-saudara tersebut. Suasana sukacita semakin lengkap dengan kehadiran para cucu dan cicit dari pasangan (Alm.) Zaini dan (Alm.) Malia yang turut larut dalam kehangatan. Mereka semua, termasuk istri dari mendiang Rumi, berbaur dan berpose bersama, menciptakan potret keluarga besar yang harmonis dan penuh cinta di tanah kelahiran.
Meski formasi kini terasa berbeda, suasana sukacita dan kehangatan begitu terpancar jelas dari senyum mereka saat kembali berkumpul di Desa Lubuk Layang Ilir. Pertemuan ini seolah mengobati kerinduan yang tertahan selama 10 hingga 12 tahun lamanya.
Kehangatan ini menyatukan mereka yang setia menjaga tanah kelahiran yakni Tanhar, Nurul, Jamilah, Sapuan, Junaidi, dan Muslimin dengan mereka yang merantau di wilayah Jabodetabek, yaitu Bujang Abdullah, Samsul Kopli, Susmayanti, dan Sopian Kurnain.
“Alhamdulillah, kami bisa berkumpul serempak. Ini adalah pertemuan langka yang sangat kami syukuri. Di tengah padatnya tanggung jawab di kota besar, akhirnya kami bisa pulang dan bersatu kembali. Meski almarhum Rumi sudah tidak ada, kehadiran istrinya yang menggantikan posisinya dalam momen ini, serta kebersamaan dengan cucu dan cicit, membuat suasana terasa lengkap dan penuh syukur,” ujar salah satu perwakilan keluarga.
Kisah keluarga dari Desa Lubuk Layang Ilir ini memberikan pesan mendalam bagi masyarakat luas. Bahwa sesibuk apa pun seseorang mengejar impian di tanah rantau, keluarga adalah tempat pulang yang paling hakiki. Keharmonisan ini menjadi bukti bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, akar persaudaraan yang ditanamkan oleh orang tua akan selalu menjadi pengikat yang kuat bagi anak, cucu, hingga cicit.
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu memprioritaskan waktu bagi orang-orang tercinta. Di balik setiap kesuksesan yang diraih di perantauan, doa dan ikatan keluarga di kampung halaman adalah fondasi yang tak tergantikan.
Publisher -Red
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










