ACEH SINGKIL, CN 5 November 2026 – Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Aceh, Aidil Syahputra, menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus kecaman keras atas insiden penembakan yang menimpa masyarakat sipil di wilayah Tiro, Kabupaten Pidie, pada Rabu, 4 November 2026. Peristiwa tragis yang terjadi di tengah rangkaian kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut dilaporkan mengakibatkan satu orang warga meninggal dunia dan sejumlah masyarakat lainnya mengalami luka-luka.
Aidil Syahputra menegaskan bahwa persoalan ini tidak boleh dipandang sekadar sebagai benturan antara masyarakat dan aparat keamanan. Menurutnya, terdapat isu yang jauh lebih mendasar menyangkut keselamatan warga sipil, penegakan hak asasi manusia, serta komitmen merawat perdamaian jangka panjang yang telah diperjuangkan di Aceh. Tidak ada alasan apa pun yang dapat dijadikan pembenaran untuk menghilangkan nyawa manusia secara sewenang-wenang.
Apabila benar terdapat dugaan penggunaan senjata api terhadap masyarakat sipil sebagaimana informasi yang berkembang, pihak berwenang didesak untuk mengusut tuntas secara serius, objektif, dan transparan. Penegakan hukum secara terbuka dinilai sangat penting agar tidak ada upaya melindungi pihak mana pun yang terbukti melanggar hukum.
Mengingat Aceh memiliki sejarah panjang konflik bersenjata sebelum akhirnya mencapai perdamaian melalui kesepakatan MoU Helsinki pada tahun 2005, setiap pendekatan keamanan di wilayah ini dinilai harus senantiasa mengedepankan dialog, kekhususan daerah, serta perlindungan terhadap masyarakat sipil. Tindakan yang tidak terukur dikhawatirkan dapat membuka kembali luka sejarah yang selama ini disembuhkan.
Dinamika yang terjadi di lapangan, termasuk terkait isu pengibaran Bendera Bulan Bintang apabila menjadi pemicu insiden, semestinya diselesaikan melalui mekanisme hukum, dialog politik, dan pendekatan persuasif, bukan melalui tindakan represif yang berisiko menimbulkan korban jiwa.
Mendesak Panglima TNI dan Pangdam Iskandar Muda untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh serta mengambil langkah tegas terhadap seluruh personel yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.
Mendesak pembentukan tim investigasi yang independen, transparan, dan akuntabel guna mengungkap secara utuh kronologi, penggunaan senjata api, pihak yang bertanggung jawab, serta kemungkinan adanya perintah atau keterlibatan atasan.
Mendesak Komnas HAM untuk segera melakukan penyelidikan dan pemantauan terhadap dugaan pelanggaran HAM dalam peristiwa tersebut.
Menuntut proses hukum yang adil dan terbuka terhadap siapa pun yang terbukti melakukan pelanggaran tanpa memandang pangkat, jabatan, maupun institusinya.
Meminta pemerintah memberikan jaminan perlindungan, pendampingan hukum, serta pemulihan bagi para korban dan keluarga korban, termasuk pertanggungjawaban atas kerugian yang dialami.
Mendesak seluruh institusi keamanan untuk mengevaluasi pendekatan penanganan persoalan sosial dan politik di Aceh agar tidak mengedepankan tindakan represif terhadap masyarakat.
Perdamaian Aceh merupakan hasil perjuangan panjang dan pengorbanan rakyat yang harus dijaga dengan penghormatan terhadap martabat manusia, bukan dengan intimidasi maupun kekerasan. Negara diharapkan senantiasa hadir untuk melindungi masyarakat dan memberikan rasa aman.
Reporter: CN Mustafa, C.BJ., C.EJ.
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









