KENDAL – 23 April 2026- Pentas seni budaya kembali menggeliat di Kabupaten Kendal melalui pertunjukan drama musikal berjudul Kali Damar yang digelar di Teras Nirwana, Boja. Pementasan ini mengangkat cerita folklore asal-usul wilayah Weleri yang dikemas secara kontemporer oleh Teater Atmosfer, memadukan nilai sejarah dengan sentuhan seni modern yang menarik perhatian penonton pada Selasa (21/04/2026).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal yang diwakili Sub Koordinator Sejarah, Yuhan Cahyantara, S.S., menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang hadir mendukung kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Daerah terus berupaya memfasilitasi ruang bagi perkembangan seni pertunjukan di Kendal. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada masyarakat, para Camat di wilayah Siboli (Singorojo, Boja, Limbangan), serta Kepala Desa Sambongsari Weleri, Bani Ardi, S.Pd., M.Pd., yang turut hadir dalam acara tersebut.
Penonton sangat antusias dan kami memfasilitasi pentas drama musikal berjudul Kali Damar ini. Teater adalah salah satu seni pertunjukan yang sudah ada sejak lama. Alhamdulillah, di tahun ini akan ada dua pementasan teater, salah satunya di Boja, kemudian pada tanggal 2 Mei mendatang akan ada pementasan yang melibatkan anak-anak. Ini merupakan upaya pemerintah dalam menggalakkan kembali minat generasi muda terhadap sejarah dan seni pertunjukan, khususnya kebudayaan, ujar Yuhan.
Sementara itu, pemeran Pangeran Sambong sekaligus Stage Manager, R. Arief Rahman Hunter S., mengungkapkan bahwa Teater Atmosfer dengan fasilitasi Disdikbud Kendal serta dukungan Arsy Aray Production, membawakan cerita folklore yang bersumber dari data resmi pemerintah daerah tentang asal-usul Weleri. Cerita tersebut kemudian diadaptasi dan dibalut secara kontemporer dalam bentuk drama musikal.
Ia menambahkan, kisah dalam pertunjukan ini berangkat dari cerita roman yang melibatkan tokoh Nyai Damariyah, yang juga dikenal sebagai Nyai Pandansari atau Sri Pandan, bersama Nyai Wungu. Dalam alur cerita, mereka bertemu dengan Pangeran Sambong beserta dua muridnya, Bagus Wuragil dan Denowo.
Pangeran Sambong merupakan salah satu tokoh dari Mataram yang pernah berperang melawan Belanda di Batavia serta merupakan murid Tumenggung Bahurekso. Tempat pertemuan tokoh-tokoh tersebut kini dikenal dengan nama Sambong, yang memiliki makna menyambung kembali tali persaudaraan, kata R. Arief Rahman S.
Antusiasme penonton terlihat jelas sepanjang pertunjukan. Salah satu penonton, R. Bayu Adhi Pamungkas, S.E., yang juga Presiden Shaka Bahurekso, mengaku terpukau dengan penampilan yang disuguhkan.
Saya sangat terpukau dengan penampilan drama musikal dari Teater Atmosfer. Penyajiannya sangat menarik dan mampu menghidupkan kembali cerita rakyat dengan cara yang modern dan menghibur, ungkapnya.
Pementasan Kali Damar ini menjadi bukti bahwa seni teater masih memiliki tempat di hati masyarakat sekaligus menjadi media efektif dalam mengenalkan kembali nilai-nilai sejarah dan budaya lokal kepada generasi muda.
Publisher -Red
Reporter CN -Zen
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










