KENDAL – Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, meresmikan teknologi Pirolisis Multi Kondensor Generasi 5.0 di TPS3R Desa Margorejo, Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal, Kamis (11/6/2026). Inovasi tersebut mampu mengubah sampah plastik bernilai rendah menjadi bahan bakar alternatif bernama Pertasol.
Peresmian turut dihadiri Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari, jajaran Forkopimda Kendal, Presiden Direktur Pertamina Foundation Agus Mashud S. Asngari, perwakilan BRIN, camat, kepala desa, serta kelompok pengelola bank sampah se-Kabupaten Kendal. Pada kesempatan itu, diberikan penghargaan kepada kelompok ibu-ibu penggerak bank sampah Desa Margorejo atas peran aktifnya.
Teknologi pirolisis ini merupakan hasil kolaborasi Pertamina Foundation, BRIN, Pemkab Kendal, dan masyarakat. Dari 1 kilogram sampah plastik, mesin mampu menghasilkan hampir 1 liter Pertasol. “Ini capaian luar biasa hasil kolaborasi BRIN dan Pertamina Foundation,” ungkap Hanif.
Dalam sambutannya, Hanif menegaskan sampah masih jadi tantangan besar. Dengan penduduk lebih dari satu juta jiwa, produksi sampah Kendal mencapai sekitar 437 ton per hari. “Ini persoalan serius yang harus kita tangani bersama. Sampah bukan hanya tugas bupati, tetapi kewajiban personal dan kolektif seluruh masyarakat,” tegasnya.
Ia merinci, 60 persen sampah Kendal berupa organik dan 23 persen plastik. Sampah plastik yang sulit terurai kini bisa diolah jadi energi. Namun, Hanif mengingatkan pengoperasian teknologi tetap memperhatikan aspek lingkungan, termasuk pengelolaan gas dan residu pirolisis agar tidak menimbulkan dampak baru.
Menurut Hanif, kecanggihan teknologi tak cukup tanpa manajemen dan komitmen bersama. “Secanggih apa pun teknologi, jika manajemennya tidak disepakati dan dijalankan sungguh-sungguh, program ini akan terlantar. Peran masyarakat jadi faktor paling penting,” ujarnya.
Bupati Dyah Kartika Permanasari menyambut baik inovasi ini. Menurutnya, teknologi pirolisis jadi solusi mengurangi volume sampah sekaligus mendorong energi alternatif berbasis masyarakat. “Kami berharap program ini dapat direplikasi di wilayah lain sehingga mampu mengurangi beban sampah sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi warga,” kata Bupati Tika.
Kepala Desa Margorejo, Suyoto, menegaskan komitmen warganya menjadikan pengelolaan sampah sebagai gerakan berkelanjutan. “Mulai hari ini, kami siap melawan sampah. Sampah harus kita ubah jadi sesuatu yang bermanfaat. Kami berharap program ini tidak hanya seremonial, tetapi terus didampingi,” ucap Suyoto.
Ia berharap Desa Margorejo jadi desa binaan Pertamina Foundation agar bank sampah dan teknologi pirolisis terus berkembang. “Kalau kita semua berkomitmen, saya yakin persoalan sampah bisa diatasi. Harapannya, teknologi ini tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga mendukung ketahanan energi bagi petani dan nelayan sehingga desa makin mandiri,” pungkasnya.
Publisher -Red
Reporter CN -Zen
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










