KEBUMEN – 11 Mei 2026– Kebijakan tata kelola aset Bank Kebumen tengah menuai sorotan tajam dari berbagai lapisan masyarakat. Ketegasan manajemen dalam mengeksekusi aset lelang milik nasabah kecil dinilai kontras dengan lambatnya penyelesaian sengketa hukum besar, terutama yang berkaitan dengan aliran dana ke lembaga perbankan lain seperti Bank Jepara Artha.
Ketimpangan ini memicu tudingan adanya standar ganda dalam penegakan aturan di tubuh bank milik daerah tersebut.
Selain persoalan eksekusi, publik juga menyoroti transparansi pengelolaan dana masyarakat yang disalurkan melalui skema kredit sindikasi. Informasi yang beredar sempat menyebut adanya potensi dana sebesar 10 miliar rupiah yang mengalir ke luar daerah melalui Bank Jepara Artha (BJA), sebuah lembaga yang kini telah dilikuidasi.
Dalam klarifikasinya, manajemen Bank Kebumen membantah angka tersebut dan menyatakan bahwa nilai riil kredit yang dimaksud adalah 1,2 miliar rupiah.
Pihak manajemen juga berkilah bahwa kredit tersebut merupakan warisan dari kepemimpinan sebelum Agustus 2021.
Namun, pembelaan tersebut tidak serta-merta meredakan kritik. Fakta bahwa kredit tersebut kini berstatus macet total pada sektor properti dan transportasi di luar wilayah Kebumen justru memperkuat desakan dilakukannya audit investigatif. Kepatuhan bank terhadap prinsip kehati-hatian (prudential banking) dipertanyakan, mengingat dana warga ditempatkan pada proyek berisiko tinggi di luar daerah.
Belajar dari kejatuhan BPR Bank Purworejo yang izin usahanya dicabut OJK, pengamat kebijakan publik mendesak Pemerintah Kabupaten Kebumen selaku pemegang saham untuk segera bertindak.
Audit independen mendesak dilakukan guna memastikan tidak ada pelanggaran Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) serta melindungi likuiditas bank dari ancaman kegagalan sistemik.
Ketimpangan perlakuan ini juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Salah seorang sumber yang enggan disebutkan identitasnya menceritakan pengalamannya saat mendampingi warga kecil yang mengalami kredit macet. Ia mengkritik cara bank yang memberikan tekanan luar biasa kepada rakyat kecil, namun seolah kehilangan taji saat berhadapan dengan kasus besar seperti sengketa Bank Jepara Artha yang sudah berlarut-larut.
Kini, Bank Kebumen dituntut untuk membuktikan profesionalismenya dengan memperjelas status penjaminan di PT Jamkrida Jateng sebagai langkah mitigasi risiko.
Konsistensi dalam penegakan hukum tanpa tebang pilih menjadi ujian krusial bagi integritas Bank Kebumen untuk memulihkan kepercayaan masyarakat luas.
Publisher -Red
Reporter CN -Waluyo, C.B.J., C.E.J.
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










