Sempor Kebumen– Sebuah gerakan swadaya masyarakat di pelosok Kabupaten Kebumen berhasil membuktikan bahwa keterbukaan dan gotong royong adalah kunci utama pembangunan peradaban desa. Warga Dukuh Masaran, Desa Bonosari, Kecamatan Sempor, baru-baru ini merampungkan proyek rehabilitasi Musholla Fathul Huda dengan mencatat transparansi keuangan yang sangat detail hingga ke pecahan rupiah terkecil.
Pihak panitia pembangunan yang dipimpin oleh Tolib selaku ketua dan Faif Mahmudin selaku sekretaris, secara resmi merilis dokumen pertanggungjawaban publik bertajuk LPJ Fathul Huda ke Donatur.pdf pada pertengahan Maret 2026. Langkah ini diambil sebagai bentuk pemenuhan janji moral sekaligus amanah kepada para donatur, baik yang berada di lingkungan sekitar desa maupun para perantau di Jakarta yang tergabung dalam paguyuban warga.
Berdasarkan data keuangan yang dihimpun, total donasi tunai yang masuk mencapai Rp 57.450.000. Dana tersebut bersumber dari puluhan hamba Allah, kas infak mushola, hingga sumbangan kolektif paguyuban Jakarta yang mengirimkan bantuan dalam dua tahapan besar. Tidak hanya uang tunai, warga juga menyumbangkan material penting seperti pasir beton, besi, semen, batu split, hingga teralis pengaman berbahan stainless steel.
Proses pengerjaan fisik sendiri berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, dimulai sejak akhir Juni 2025 dan selesai sepenuhnya pada September 2025. Cakupan rehabilitasi meliputi perbaikan atap yang kini menggunakan material baja ringan dan atap upvc maroon, pembenahan interior lantai dua, pemasangan plafon gypsum dengan desain modern, instalasi listrik baru, serta perapihan eksterior bangunan secara menyeluruh.
Dalam laporannya, panitia mencatat seluruh pengeluaran secara terperinci dengan total belanja mencapai Rp 56.273.855. Menariknya, laporan ini melampirkan seluruh bukti transaksi, mulai dari nota pembelian material skala besar di toko besi, pembelian lampu melalui platform belanja daring Shopee, pengeluaran konsumsi rapat dan tumpengan selamatannya, hingga biaya fotokopi berkas dan pembelian stempel panitia senilai Rp 25.000.
Dari kalkulasi akhir tersebut, panitia mengumumkan sisa anggaran dana yang sangat transparan sebesar Rp 1.176.145. Seluruh alokasi upah tenaga kerja juga dibuka kepada publik, di mana proyek ini memberdayakan sembilan pekerja lokal dengan total serapan insentif sebesar Rp 15.820.000 untuk 226 hari kerja akumulatif.
Kepala Desa Bonosari, Sugeng Suyanto, yang turut menandatangani dan mengesahkan laporan tersebut memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja kepanitiaan. Menurut pihak pemerintah desa, model pertanggungjawaban publik yang diterapkan oleh pengurus Musholla Fathul Huda dapat menjadi contoh baku dan pembanding bagi kegiatan pembangunan fasilitas umum lainnya di masa depan.
Kini, Musholla Fathul Huda yang berdiri di lingkungan RT 001 RW 003 tersebut telah berubah wajah dari bangunan yang semula memerlukan banyak perbaikan menjadi tempat ibadah yang representatif, nyaman, dan indah. Melalui dokumentasi progres dari nol hingga seratus persen yang dipublikasikan, masyarakat kini tidak hanya dapat menikmati bangunan fisik yang baru, namun juga merasakan nilai kejujuran yang dirawat bersama di dalam ruang ibadah mereka.
Publisher -Red
Reporter CN -Waluyo
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










