KEBUMEN – Mei 2026- Pengabdian kepada masyarakat tidak selamanya harus dibatasi oleh masa jabatan administratif. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Giyono Tri Atmojo, atau yang akrab disapa Mbah Giyono. Mantan Kepala Desa di wilayah Sempor ini kini mendedikasikan hidupnya sebagai penjaga memori kolektif bangsa melalui koleksi artefak sejarah di kediamannya, Desa Kedungjati RT 05 RW 04, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen.
Melalui wadah yang ia namakan Padepokan Wesi Aji, Mbah Giyono bercita-cita menyulap ruang pribadinya menjadi museum edukasi yang representatif bagi generasi muda.
Memasuki Padepokan Wesi Aji layaknya melintasi lorong waktu. Dinding dan etalasenya dipenuhi ratusan bilah pusaka peninggalan berbagai era. Mbah Giyono bukan sekadar kolektor; ia adalah penutur filosofi tosan aji yang mumpuni.
Bagi beliau, koleksi ini bukan sekadar benda peninggalan mati. Ia memandang setiap artefak sebagai benang merah sejarah yang tidak terputus.
“Baginya ini bukan sekadar peninggalan, tetapi sejarah masa lalu. Ada era ada zaman, ada zaman ada manusia, dan selama ada manusia maka akan ada peninggalan yang bermakna,” tutur beliau menekankan pentingnya menghargai warisan peradaban.
Salah satu koleksi unggulannya adalah Keris Sangkelat, sebuah simbol kepemimpinan yang berakar pada keberpihakan kepada rakyat kecil. Ada pula Keris Tilam Upih, yang menurutnya membawa pesan mendalam tentang ketenangan hati meski hidup dalam kesederhanaan.
Tak hanya benda pusaka, ia juga merawat saksi bisu revolusi teknologi. Puluhan radio lawas, tape recorder, hingga deretan ponsel generasi awal tertata rapi di rak kayu. Barang-barang ini menjadi bukti nyata bagaimana peradaban manusia bertransformasi dari gelombang analog ke era digital.
Koleksi di Padepokan Wesi Aji kian lengkap dengan adanya batuan unik asli bumi Kebumen dan koleksi mata uang kuno (numismatik). Keberadaan batu-batuan ini seolah menegaskan identitas Kebumen sebagai wilayah yang kaya secara geologis, sementara mata uang kuno menceritakan dinamika ekonomi tanah air dari masa ke masa.
Pengalamannya sebagai pemimpin desa memberikan perspektif bahwa literasi budaya adalah fondasi karakter bangsa. Ia berharap pemerintah dan masyarakat dapat mendukung visi transformasinya menjadikan padepokan tersebut sebagai destinasi wisata edukasi yang profesional.
“Dulu saya melayani masyarakat secara administratif. Sekarang, saya ingin berbakti melalui jalur kebudayaan. Saya bermimpi museum ini menjadi tempat belajar bagi anak cucu agar mereka tidak asing dengan warisan leluhurnya sendiri,” tambahnya.
Inisiatif mandiri dari Giyono Tri Atmojo ini diharapkan dapat memperkuat narasi Geopark Kebumen dan menjadi magnet wisata budaya baru di sisi barat Kabupaten Kebumen. Semangatnya menjadi pengingat bahwa purnatugas hanyalah perpindahan ladang pengabdian dari kursi birokrasi ke pelestarian tradisi.
Publisher -Red
Reporter CN -Waluyo, C.BJ., C.EJ.
Eksplorasi konten lain dari Cyber Nasional
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










